Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BUNYI alarm dampak perubahan iklim terhadap lingkungan semakin menggema. Suara peringatan mewarnai pertemuan perwakilan dari hampir 200 negara di Polandia, pada Minggu (2/12) waktu setempat, untuk memperkuat upaya pencegahan bencana alam imbas perubahan iklim.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai iklim, memiliki peran krusial sebagaimana respons manusia terhadap pemanasan global. Negara dengan perekonomian berskala kecil lah yang mayoritas menanggung beban. Sehingga, negara-negara kaya harus berkontribusi untuk mengimplementasikan komitmen dalam Perjanjian Paris 2015.
Sekitar tiga tahun lalu di Paris, sejumlah negara berkomitmen dalam hal pembatasan suhu global jauh di bawah 2 derajat Celsius dan mendorong ke batas 1,5 derajat Celsius jika dimungkinkan. Akan tetapi dengan pemanasan 1 derajat celsius sejauh ini, dunia telah melihat dahsyatnya dampak yang ditimbulkan. Mulai dari kebakaran hutan mematikan, gelombang panas dan terjangan badai yang diiringi naiknya permukaan air laut.
Direktur Utama Institut Postdam untuk Penelitian Dampak Iklim, Johan Rockstrom, mengatakan pembicaraan di Katowice, Polandia, sangat penting dalam pemajuan janji-janji Perjanjian Paris, terutama implementasinya.
"Para delegasi dalam pembicaraan COP24 tidak akan fokus membahas apakah pemerintah di seluruh dunia mencapai taget pengurangan emisi gas rumah kaca dengan cepat untuk membatasi risiko iklim, melainkan bagaimana mereka dapat melakukannya," tutur Rockstorm.
Di Katowice, ratusan negara harus menyepakati buku aturan sesuai dengan tatanan global, yakni bagi 183 negara yang meratifikasi kesepakatan Paris. Bagaimanapun masih ada yang mengganjal, dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, membatalkan komitmen dari kesepakatan tersebut.
Pada Sabtu waktu setempat, para pemimpin G20 menyetujui komunike akhir setelah pertemuan puncak di Buenos Aires, Argentina, menyatakan Perjanjian Paris tidak dapat diubah. Namun, terdapat keterangan yang menegaskan kembali keputusan AS untuk menarik diri dari perjanjian penting itu. Padahal serangkaian laporan utama terkait iklim, sudah menyinggung kemajuan solid di Katowice sekali pun, tidak cukup kuat mencegah pemanasan global yang semakin parah.
Belum lama ini, program lingkungan PBB menyatakan kontribusi nasional secara sukarela yang disepakati di Paris, harus meningkat tiga kali lipat jika dunia membatasi pemanasan global di bawah 2 derajat celsius. Sementara untuk mencapai 1,5 derajat celsius, mereka harus meningkatkan kontribusi sekitar lima kali lipat.
Sekelompok ilmuwan iklim independen menekankan penggunaan bahan bakar fosil, harus berkurang setengahnya dalam 12 tahun ke depan, untuk mencapai target 1,5 derajat celsius. Meski berbagai data mencerminkan besarnya dampak perubahan iklim, konsensus politik global tentang upaya penanganan perubahan iklim tetap saja sulit dipahami.
"(Pertemuan) Katowice mungkin menunjukkan kepada kita, sejauh mana efek domino dari penarikan AS," tukas CEO European Climate Foundation, Laurence Tubiana, yang merupakan salah satu arsitek utama Perjanjian Paris 2015.
Peringatan perubahan iklim yang harus diwaspadai ialah kenaikan permukaan air laut global, hingga kegagalan panen massal d yang kemungkinan besar akan dialami negara maju di masa depan. Sebagian negara bahkan sudah mengalami kekeringan, terjangan gelombang tinggi dan badai dahsyat yang merusak.
"Kegagalan untuk bertindak sekarang, sangat berisiko membawa kita melampaui titik tanpa harapan, dengan konsekuensi bencana alam yang merusak kehidupan," pungkas Amjad Abdulla, ketua negosiator untuk Aliansi Negara Pulau Kecil, dalam pembicaraan PBB. (AFP/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved