Murid Bolos Massal demi Protes Kebijakan Iklim

(BBC/Yan/I-2)
01/12/2018 08:30
Murid Bolos Massal demi Protes Kebijakan Iklim
(AFP)

PARA siswa melewatkan sekolah pada hari Jumat untuk menyoroti apa yang mereka katakan ialah kebijakan iklim yang tidak memadai oleh pemerintah Australia.

Sebelumnya, Senin (26/11), PM Australia, Scott Morrison, memarahi rencana para siswa untuk protes selama jam belajar dan berkeras pemerintahnya sudah menangani perubahan iklim.
Banyak siswa malah mengatakan bahwa pernyataan Morrison malah memperkuat tekad mereka untuk memprotes.

Australia tidak membuat perbaikan dalam kebijakan iklimnya sejak tahun lalu, seperti dalam laporan kesenjangan emisi. School Strike 4 Climate Action telah diadakan di setiap ibu kota negara bagian dan 20 kota.

BBC bertanya kepada beberapa siswa mengapa mereka mengambil bagian.
Ide dimulai oleh Milou Albrect dan Harriet O’Shea Carre, keduanya 14 tahun, di negara bagian Victoria.

“Keadaan daru­rat perubahan iklim ialah sesuatu yang telah kita pikirkan sejak lama,” kata Harriet.
“Kami menulis surat dan melakukan hal-hal yang berbeda, tetapi mereka sepertinya tidak pernah membuat perbedaan. Sungguh, pendidikan ialah kekuatan kami satu-satunya.”

Milou menambahkan bahwa mereka ingin pemerintah menga­kui secara terbuka bahwa per­ubahan iklim ialah kritis. “Hentikan penggalian batu bara, berhenti membuat tambang batu bara baru, beralih ke energi terbarukan,” kata Milou.

Jean Hinchcliffe, 14, melihat ide protes di Victoria dan memutuskan untuk memulai di kota kelahirannya, Sydney. “Aku tidak bisa hanya duduk-duduk sampai aku cukup dewasa untuk memilih,” katanya.

“Ini benar-benar menakutkan bagi kami untuk melihat bagaimana itu akan berdampak pada masa depan kami,” katanya.

Ruby Walker, 16, mengorgani­sasi protes di Kota Inverell, sekitar 570 km utara Sydney, setelah melihat rencana orang lain di Facebook.

Dia juga terinspirasi oleh aktivitas siswa sekolah menengah di AS. “Saya pikir media sosial ialah bagian besar dari itu. Anda terus-menerus melihat masalah-masalah ini terjadi di seluruh dunia dan melihat mahasiswa lain berpegang teguh pada hal-hal yang Anda yakini,” katanya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya