G20 Dibuka di Tengah Ancaman Serangan Kolektif dari Trump

Denny Parsaulian Sinaga
30/11/2018 17:22
G20 Dibuka di Tengah Ancaman Serangan Kolektif dari Trump
(JUAN MABROMATA/AFP)

NEGARA-negara G20 membuka pembicaraan dua hari di Argentina yang dilanda krisis pada Jumat (30/11), di tengah badai masalah yang didominasi oleh kampanye Presiden AS Donald Trump untuk mengatur ulang perdagangan dunia.

Sesaat sebelum KTT dimulai, kampanye Trump dengan 'America First' akan mendapat hasil dengan penandatanganan perjanjian perdagangan pengganti pakta perdagangan bebas Amerika Utara NAFTA di Buenos Aires.

Perjanjian yang diubah itu, yang disebut Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA), sangat mirip dengan yang digantikannya. Tapi telah diubah Trump untuk memenangkan para pekerja AS yang diklaimnya ditipu oleh perjanjian sebelumnya, NAFTA.

Kesepakatan baru mungkin tidak cukup, namun penandatanganan akan dilaksanakan oleh perunding senior dari tiga negara dan bukan para pemimpin mereka menghadiri G20.

Setelah menerapkan tarif penghukuman atas barang-barang Tiongkok dan mengancam akan terjadi lagi di Januari, Trump juga mqsukkan Tiongkok saat dia bersiap untuk bertemu Presiden Xi Jinping di sela G20.

Setelah penandatanganan USMCA, dan Presiden Argentina Mauricio Macri membuka hari pertama pertemuan, protes massal berlangsung di pusat Buenos Aires.

Argentina bergulat dengan inflasi yang melonjak dan pengangguran yang disebabkan oleh krisis ekonomi, yang telah menyebabkan bailout yang sangat tidak populer dari Dana Moneter Internasional (IMF).

"Ada banyak orang yang tidak memiliki rumah dan tidak memiliki pekerjaan. Mereka (pemerintah) tidak fokus pada orang-orang yang memiliki kebutuhan," kata tukang cukur Ariel Villegas, 47, saat protes Kamis (29/11) di luar gedung Kongres Argentina.

Pemerintah bersumpah tidak menoleransi kekerasan karena mereka menjadi tuan rumah pertemuan internasional terbesar. Pemerintah mengatakan telah mendapat janji dari penyelenggara protes untuk menjaga jalan-jalan tetap tenang.

KTT G20 akan disertai dengan serangkaian inisiatif diplomatik lewat beberapa pertemuan bilateral oleh para pemimpin yang hadir, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Amerika Serikat telah menjadwalkan pembicaraan Sabtu dengan Xi sebagai tenggat waktu bagi Tiongkok untuk ikut aturan perdagangan utama Trump, yang telah menjatuhkan US$250 miliar dalam bentuk tarif pada ekonomi terkuat Asia itu.

China Daily mengatakan bahwa kedua pihak dapat menemukan kesepakatan di Buenos Aires dengan memperingatkan AS agar tidak terlalu memaksakan teknologi, di tengah tuduhan AS tentang pencurian teknologi oleh Beijing.

"Jika ada aspirasi lain, seperti mengambil keuntungan dari cekcok perdagangan dan menghambat pertumbuhan Tiongkok, kesepakatan tidak mungkin tercapai," kata surat kabar itu dalam editorial.

"Tapi kesepakatan yang bagus berarti kedua pihak berjalan dengan bahagia. AS harus melupakan pendekatan 'pemenang menguasai semua' dalam hubungan internasionalnya akhir pekan ini," katanya.

Kanselir Jerman Angela Merkel adalah salah satu pemimpin yang bakal duduk di sebelah Trump pada Jumat. Namun dia akan terlambat hadiri pembukaan karena pesawatnya terpaksa melakukan pendaratan darurat di Cologne karena masalah teknis.

Ketidakhadiran sementaranya dapat menyulitkan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk membangun front Eropa melawan Trump pada pertemuan para pemimpin Uni Eropa yang hadir di G20 pada Jumat pagi.

Kamis (29/11) larut malam, Macron bersikap menantang saat dia menolak mereka yang ingin menghadapi tantangan ekonomi dengan menjadi orang yang suka berkelahi, mengisolasi, dan menutup perbatasan.

Dia juga memperingatkan bahwa Prancis akan menolak untuk bergerak maju pada kesepakatan perdagangan dengan blok Mercosur Amerika Selatan jika presiden sayap kanan Brasil, Jair Bolsonaro, menarik diri dari kesepakatan iklim Paris.

Sumber-sumber G20 mengatakan perubahan iklim akan muncul sebagai batu sandungan terbesar untuk kesepakatan bersama di Buenos Aires ketika KTT berakhir pada Sabtu.

Trump telah menarik Amerika Serikat keluar dari pakta Paris dan penentangannya terhadap aksi kolektif itu bertentangan dengan peringatan para ilmuwan yang mendesak bahwa planet membutuhkan pemulihan kebijakan sekarang.

Tetapi dengan pertemuan besar PBB tentang perubahan iklim yang dimulai pekan depan di Polandia langsung setelah G20, pemimpin PBB Antonio Guterres mengatakan di Buenos Aires bahwa ini adalah momennya.

Dua pertemuan besar tahun ini, yakni Kelompok Tujuh Demokrasi dan Forum Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik, berakhir tanpa pernyataan, dengan Trump menolak untuk sepakat dengan G7 akibat perseteruan dengan sang tuan rumah, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.

"Apakah G20 akan memiliki sebuah komunike? Ini benar-benar jadi pertanyaan," kata mantan perunding Kanada, Thomas Bernes, yang juga seorang peneliti senior di Pusat Inovasi Tata Kelola Internasional yang berbasis di Ontario. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya