Kesepakatan Iklim Harus Kesampingkan Egoisme

(AFP/Tes/I-1)
30/11/2018 11:20
Kesepakatan Iklim Harus Kesampingkan Egoisme
(AFP PHOTO / LUDOVIC MARIN)

SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menekankan urgensi penerapan kesepakatan iklim Paris. Dia mendesak para pemimpin dunia menyampingkan egoisme dan saling berkompromi untuk tercapainya tujuan yang lebih baik.

Guterres bersama delegasi dari hampir 200 negara akan bergabung dalam konferensi COP24 di Polandia yang dibuka akhir pekan ini. Konferensi kembali menyoroti perlunya gerakan untuk memajukan kesepakatan iklim 2015.

Para pemimpin dunia berusaha menghidupkan semangat baru terhadap kesepakatan iklim Paris, menyusul keputusan AS menarik diri dari kesepakatan tersebut. Langkah AS pun diikuti kemunduran oleh beberapa negara. "Saat ini kita mengarah pada dunia yang dipenuhi bencana dan ketidakpastian akibat perubahan iklim," tegas Guterres kepada wartawan di markas PBB.

Guterres kembali meminta pemimpin negara menunjukkan komitmennya untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. "Kepemimpinan harus memahami bahwa perjanjian tersebut merupakan tujuan utama. Hal itu semestinya menepis sikap keras kepala dalam mempertahankan kepentingan masing-masing. Sangat penting untuk saling berkompromi dan menghasilkan kesepakatan yang diterima semua pihak," tutur Guterres.

Kesepakatan iklim Paris ditargetkan berlaku 2020 yang mencakup desakan untuk mengurangi pemanasan global kurang dari 2 derajat celsius di atas level praindustri. Sejumlah ahli mengingatkan potensi pemanasan global berada di jalur yang melampui 3 derajat celsius pada 2100. Dalam hal ini, turut mendesak pemimpin negara melakukan lebih banyak upaya untuk mengendalikan perubahan iklim.

Kegagalan yang menyedihkan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kopenhagen 2009 telah menghantui PBB. Sebuah kesempatan kunci untuk mengubah sudut pandang perihal pemanasan global, berlalu begitu saja lantaran tidak adanya kesepakatan. "Kegagalan dalam bertindak menunjukkan akan lebih banyak bencana, keadaan darurat dan polusi udara yang membebani ekonomi global sebesar US$21 triliun pada 2050," imbuh Guterres mengingatkan.

PBB menggarisbawahi beberapa negara yang keluar jalur dalam pemenuhan komitmennya. Amerika Serikat (AS), penghasil emisi karbon terbesa kedua di dunia, disinyalir mengabaikan targetnya. Begitu juga Australia, Kanada, Korsel, dan Uni Eropa. Tiongkok dan Rusia masih berada dalam jalur, tetapi upayanya belum terlalu signifikan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya