Senat AS Desak Trump Jatuhkan Sanksi Saudi

(AFP/Tes/I-1)
30/11/2018 11:10
Senat AS Desak Trump Jatuhkan Sanksi Saudi
(AFP GETTY IMAGES NORTH AMERICA)

SENAT Amerika Serikat (AS) mengambil sikap yang menentang kebijakan Gedung Putih di bawah kepemimpinan Donald Trump. Mereka mendesak Pemerintah AS mengakhiri dukungan militer terhadap intervensi Yaman yang dipimpin Arab Saudi.

Desakan yang muncul dari hasil pemilihan dengan komposisi 63-37, hanya berselang beberapa jam dari kedatangan Menteri Luar Negeri AS Pompeo dan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis. Bawahan Trump berupaya memberikan pandangan agar tidak menekan dukungan AS kepada militer Saudi. Mundurnya keterlibatan AS diyakini akan memperburuk perang.

Pemungutan suara merupakan permulaan yang mencolok sejak awal tahun ini, ketika tindakan tersebut gagal sekaligus menandai keinginan bipartisan baru agar Pemerintahan Trump mengambil garis keras terhadap Arab Saudi. Anggota parlemen geram dengan reaksi Trump atas kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, yang diduga kuat berkaitan dengan Kerajaan Saudi. Sikap Trump terhadap meningkatnya krisis kemanusiaan akibat perang di Yaman, pun menuai kritik.

"Saudi telah keluar dari jalur. Mereka telah membunuh lebih banyak warga sipil pada tahun ini. Lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya dalam perang Yaman. Mereka juga melakukan kesalahan fatal atas kasus penculikan dan kematian Khashoggi. Banyak hal yang berubah dalam beberapa bulan terakhir untuk membawa kita pada titik ini," ujar Chris Murphy, Senator dari Partai Demokrat.

Senator dari Partai Republik, Lindsey Graham, mengatakan dia mengubah haluan dukungannya terhadap resolusi tersebut. Direktur CIA Gina Haspel dinilai tidak bisa memberikan kesaksian terkait keterlibatan Putra Mahkota, Muhammad bin Salman (MBS), dalam pembunuhan Khashoggi.

"Yang jadi pertanyaan bagi saya ialah apakah CIA mendukung kesimpulan itu. Tentunya dengan tingkat kepercayaan yang tinggi bawah Putra Mahkota terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Saya tidak akan menolak jika diberi pengarahan oleh CIA," tukas Graham.

Baik Mattis maupun Pompeo kompak menekankan bahwa setelah meninjau ulang hasil intelijen dengan cermat, Pemerintah AS tidak menemukan bukti langsung yang menghubungan MBS dengan pembunuhan Khashoggi. "Tidak ada pistol yang berasap. Pendapat kami belum berubah terkait dengan pertanggungjawaban kasus pembunuhan tersebut," kata Mattis.

Pembicaraan lebih lanjut dan pemungutan suara untuk tindakan khusus, diharapkan berlangsung pekan depan. Perdebatan yang digulirkan Senat AS memang memiliki sedikit peluang untuk membuka pandangan Kongres AS.

Sementara itu, perundingan damai telah dijadwalkan awal Desember di Swedia. Dalam hal ini melibatkan pemberontak Houthi dan pemerintah yang diakui PBB. Mattis dan Pompeo khawatir langkah mengurangi dukungan AS terhadap Saudi memperburuk keadaan dan membuat Houthi sulit bernegosiasi.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya