Konflik Rusia-Ukraina Memanas

Denny Parsaulian Sinaga
29/11/2018 08:00
Konflik Rusia-Ukraina Memanas
(AFP/STR)

PRESIDEN Ukraina Petro Poroshenko, Selasa (27/11) memperingatkan ancaman perang skala penuh dan mengatakan Rusia telah meningkatkan secara tajam kehadiran militernya di perbatasan mereka.

Krisis itu juga mengancam hubungan diplomatik dengan Presiden AS Donald Trump. Trump telah memperingatkan bahwa ia dapat membatalkan pertemuan puncak yang sudah lama ditunggu-tunggu dengan Rusia Vladimir Putin.

Trump dijadwalkan bertemu dengan Putin di KTT G-20 di Buenos Aires pada akhir pekan ini. Namun, dia mengatakan kepada The Washington Post bahwa itu akan tergantung pada hasil laporan tentang insiden yang sedang disiapkan oleh penasihat keamanan nasionalnya.

"Mungkin aku tidak akan mengadakan pertemuan. Mungkin aku bahkan tidak akan mengadakan pertemuan," katanya.

Di Ukraina, Poroshenko memperingatkan bahwa bentrokan di laut bisa menjadi perkembangan yang lebih drastis dalam perselisihan militer Ukraina-Rusia. "Saya tidak ingin ada yang berpikir ini menyenangkan dan permainan. Ukraina berada di bawah ancaman perang skala penuh dengan Rusia," kata presiden itu dalam wawancara dengan televisi nasional.

Jumlah unit Rusia yang dikerahkan di sepanjang perbatasan Ukraina-Rusia telah tumbuh secara dramatis, sementara jumlah tank Rusia telah meningkat tiga kali lipat, tambah Poroshenko mengutip laporan intelijen. Namun, dia tidak memberikan kapan penumpukan.

Dia berbicara setelah pasukan Rusia menyita tiga kapal Kiev di lepas Pantai Crimea pada Minggu dan menangkap 24 pelaut Ukraina.

Selasa, sebuah pengadilan di Simferopol, kota utama di Krimea yang dianeksasi oleh Rusia, memerintahkan 12 dari para pelaut ditahan selama dua bulan. Tiga pelaut yang dirawat di rumah sakit juga ditahan secara resmi selama dua bulan. Sisanya akan muncul di pengadilan pada Rabu.

NATO dukung Ukraina

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyerukan Rusia membebaskan tiga kapal angkatan laut Ukraina beserta 23 awaknya yang ditahan sejak pekan lalu.

"Tidak ada pembenaran untuk penggunaan kekuatan militer Rusia terhadap kapal-kapal Ukraina dan personel angkatan laut. Kami menyeru Rusia agar membebaskan para pelaut Ukraina dan kapal yang disita tanpa penundaan," kata NATO dalam sebuah pernyataan pada Selasa (27/11), dikutip laman Anadolu Agency.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo berpendapat penangkapan kapal Ukraina menunjukkan adanya ekskalasi berbahaya dan pelanggaran hukum internasional. "Kami tidak suka apa yang sedang terjadi. Entah bagaimana, kami jelas tidak suka. Semoga mereka dapat meluruskan persoalan," ucap Presiden AS Donald Trump dalam suatu kesempatan.

Di sisi lain, seiring dengan meningkatnya ketegangan militer dengan Ukraina, Rusia segera mengerahkan sistem rudal pertahanan udara terbaru S-400 di Semenanjung Krimea. Pemasangan sistem rudal S-400 diungkapakan seorang pejabat militer, sebagaimana diberitakan kantor berita RIA Novosti.

"Dalam waktu dekat, sistem pertahanan udara baru akan mengemban tugas untuk melindungi wilayah udara Federasi Rusia," ujar Kolonel Vadim Astafiyev dari distrik militer selatan Rusia kepada kantor berita Interfax.

Hubungan Rusia dan Ukraina memanas hingga mengarah pada krisis terbesar dalam beberapa tahun setelah kapal patroli perbatasan Rusia menangkap tiga kapal angkatan laut Ukraina di lepas pantai Krimea, Minggu waktu setempat. (AFP/Tes/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya