Indonesia Terus Mencari Peluang Kerja Sama dengan Pakistan

Tesa Oktiana Surbakti
27/11/2018 21:40
Indonesia Terus Mencari Peluang Kerja Sama dengan Pakistan
(Ist)

INDONESIA berusaha mencari peluang kerja sama dari kondisi Pakistan yang sangat dinamis. Hal itu diutarakan Duta Besar (Dubes) RI untuk Pakistan, Iwan Suyudhie Amri, usai mengikuti Forum Konsultasi Bilateral II dengan Pakistan di Islamabad.

"Situasi Pakistan sangat dinamis, tapi kami selalu mencari peluang. Kami selalu berusaha memanfaatkan kesempatan untuk mempromosikan Indonesia, karena potensi kedua negara besar," ujar Dubes Iwan, melalui keterangan resmi, Selasa (27/11).

Dubes Iwan menyampaikan bahwa 'people-to-people contact' merupakan kunci hubungan baik Indonesia-Pakistan. Selain isu perdagangan, isu pendidikan adalah salah satu topik yang dibahas di FKB.

Saat ini, terdapat beberapa universitas di Indonesia yang memiliki MoU dengan Pakistan, termasuk Universitas Indonesia. Di Islamabad, ada International Islamic University yang mempunyai Mou dengan Pesantren Gontor, sementara universitas lain yang berfokus di bidang agrikultur mempunyai kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor.

Pun saat ini terdapat mahasiswa Pakistan yang melanjutkan studi di Universitas Airlangga Surabaya dan Institut Teknologi Bandung melalui skema Darmasiswa. Dubes Iwan menjelaskan sekitar 300 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di Karachi. Angka itu disebutnya perlu digenjot lebih tinggi lagi.

"Saat ini hanya generasi 40 tahun ke atas yang tahu mengenai ikatan historis Indonesia-Pakistan. Dengan penambahan pertukaran jumlah mahasiswa, generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa bisa makin saling kenal," imbuh Dubes Iwan.

Isu lain yang menjadi fokus FKB II adalah diversifikasi produk kelapa sawit, yang mendominasi produk perdagangan Indonesia-Pakistan saat ini. Berkat kelapa sawit, neraca perdagangan Indonesia-Pakistan tahun ini surplus sebanyak US$1,8 miliar.

Sejak pengimplementasian Preferential Trade Agreement (PTA) di  2013, Indonesia berhasil menguasai pangsa pasar di Pakistan sebanyak hampir 80%, merebut pangsa pasar yang sebelumnya dikuasai Malaysia.

Bagaimana pun, mempertahankan posisi lebih sulit daripada mengambil alih. Oleh karena itu, diversifikasi sangatlah penting, agar tidak tergantung pada satu produk saja. Apalagi saat ini ada wacana pelarangan konsumsi vegetable ghee atau vanaspati (pengganti minyak goreng yang dibuat dari minyak kelapa sawit) oleh Punjab Food Authority.

Jika pelarangan ini, yang sedianya akan berlaku mulai 2020 jadi diterapkan, maka kelapa sawit dari Indonesia akan pula terdampak.

Berkaitan hal tersebut, dibahas juga Technical Barrier to Trade yang dikenakan ke Palm Oil dan Buah Pinang. Indonesia menyambut baik janji pihak Pakistan yang akan mengadakan rapat interkementerian untuk membahas isu ini.

"Indonesia menyambut baik jaminan pihak Pakistan yang menanggapi isu Technical Barriers to Trade ini dengan serius. Ke depannya, perundingan akan berjalan dengan lebih kekeluargaan," kata Dubes Iwan.

Indonesia sedang mengupayakan masuknya produk dagang unggulan lain seperti produk-produk Mayora dan Suzuki Karimun. Jika produk-produk ini diterima dengan baik, maka perwakilan Indonesia bisa mendorong penurunan tarif untuk produk-produk ini. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya