Pesawat Tanpa Awak Siap Mendarat di Planet Merah

Tesa Oktiana Surbakti
26/11/2018 17:07
Pesawat Tanpa Awak Siap Mendarat di Planet Merah
(AFP)

PESAWAT luar angkasa tanpa awak yang diluncurkan NASA sekitar 7 bulan lalu siap mendarat di Planet Mars, yang bertetangga dengan Bumi. Rasa penasaran yang mendorong penelitian terhadap planet berwarna merah, dimulai sejak 2012.

Sejumlah ilmuwan utama NASA mengaku susah tidur hingga telapak tangan pun berkeringat, jelang pendaratan pesawat antariksa bernama Mars Insight. Pesawat bernilai US$ 993 juta itu dijadwalkan mendarat di Mars hari ini.

Baca juga: 145 Paus Terdampar di Pulau Terpencil Selandia Baru

Tujuan penjelajahan Mars Insight ialah mengamati ssekaligus mendengarkan gempa dan getaran sebagai cara untuk mengungkap misteri yang tersimpan dari planet merah. Termasuk sejarah pembentukan planet miliaran tahun lalu, perluasan wilayah, maupun bagaimana planet berbatu seperti Bumi terbentuk.

Dari 43 percobaan menyambagi Mars, lebih dari setengahnya gagal. Padahal, puluhan percobaan menggunakan penjelajah, pengorbit dan pesawat pemeriksa, digencarkan badan antariksa dari seluruh dunia.NASA menjadi satu-satunya badan antariksa yang berhasil menorehkan sejarah. Misi robotik ini bagian investasi menuju penjelajahan manusia pertama di Planet Mars pada 2030.

"Kami tidak pernah menganggap Mars sebagai planet yang biasa. Mars ini rumit," ujar administrator asosiasi NASA untuk direktorat misi sains, Thomas Zurbuchen, pada Minggu waktu setempat.

Tensi drama pendaratan semakin meningkat sejak pukul 11.47 pagi (19.40 GMT) di NASA's Jet Propulsion Laboratory di Pasedena, California, pusat kontrol misi untuk Mars Insight. Fase pendaratan diatur dengan hati-hati, yang mana sudah terprogram sepenuhnya dalam mesin pesawat luar angkasa. Enam menit jelang pendaratan akan menjadi teror yang mendebarkan.

Pesawat ruang angkasa yang terlindung perisai panas saat memasuki atmosfer Mars, meningkatkan kecepatan pada level 12.300 mph. Begitu indikator perisai panas menunjukkan suhu 2.700 fahrenheit atau sekitar 1.500 celcius, sinyal radio kemungkinan hilang sebentar. Setelah perisai panas dilepaskan, tiga kaki pendaratan akan menyebar, berikut munculnya parasut.

"Proses pendaratan seperti terjun bebas, menjadi hal yang benar-benar menakutkan bagi saya. Kami terus memikirkannya," ucap manajer proyek Mars Insight, Tom Hoffman.

Seiring pendorong pesawat ruang angkasa mulai menyala, kecepatan pesawat dengan berat 365 kilogram (kg) perlahan akan melambat sekitar 5 mph saat mencapai permukaan. Mengingat tidak ada tuas kontrol dalam pesawat, otomatis tidak ada cara untuk mengintervensi semisal terjadi hambatan. Hoffman pun menggambarkan emosinya yang campur aduk.

"Saya benar-benar merasa nyaman, sekaligus gugup pada waktu bersamaan. Kami sudah melakukan semua yang kami pikirkan untuk memastikan pendaratan berhasil. Tetapi bagaimanapun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi," tutur Hoffman.

Baca juga: Terobos Perbatasan AS, Ratusan Imigran Segera Dideportasi

Munculnya sinyal pendaratan pertama pada 20.01 GMT, membawa angin segar bagi Hoffman dan timnya. Dia berharap Mars Insight dapat mengatur pendaratan yang utuh dan mulus. "Begitu pendaratan berhasil, saya tidak akan ragu mengeluakan sisi batin saat berusia empat tahun," imbuhnya.

Kembali diutarakan Zurbuchen, Mars Insight digambarkan sebagai proyek yang unik karena mencakup kontribusi dari beberapa badan antariksa asal Eropa. Lembaga Ruang Angkasa Perancis (CNES) menciptakan instrumen Seismic Experiment for Interior Structure (SEIS), yakni elemen kunci untuk mendeteksi gempa. Sementara itu, Pusat Penerbangan Antariksa Jerman (DLR) menyediakan palu otomatis yang dapat menembus kedalaman hingga 5 meter dari permukaan. Instrumen itu berfungsi mengukur aliran panas. Adapun Centro de Astrobiologia dari Spanyol, membuat sensor angin untuk pesawat ruang angkasa.

Kontribusi signifikan lainnya juga datang dari Pusat Penelitian Luar Angkasa dari Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia, kemudian Institut Teknologi Swiss, dan Universitas Oxford di Inggris. Dengan kerja kolektif, keseluruhan instrumen saling bersinergi untuk mempelajari proses geologi Planet Mars.

Para ilmuwan berharap rekaman tremor di Mars, dapat membantu mengungkap ada tidaknya aktivitas gempa, gunung berapi atau dampak meteor. Dari situ, jalan pengungkapan misteri pembentukan planet semakin terbuka lebar. Arah utamanya ialah memetakan kondisi geografis Mars dalam tiga dimensi. Dengan begitu, para ilmuwan tidak hanya memahami bagian luar Mars, melainkan juga bagian dalam. Perlu digarisbawahi bahwa pemahaman terhadap pembentukan Mars, membawa pengaruh besar dalam pengungkapan pembentukan Bumi. (AFP/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya