Pemimpin Uni Eropa Menyetujui Kesepakatan Brexit dengan Rasa Sedih

Indriyani Astuti
25/11/2018 22:15
Pemimpin Uni Eropa Menyetujui Kesepakatan Brexit dengan Rasa Sedih
(AFP)

PARA pemimpin Uni Eropa pada Minggu (25/11) menyetujui perjanjian bersejarah Brexit dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May. Mereka bersama-sama memperingatkan anggota parlemen di London, yang tidak menyetujui Brexit, bahwa itu merupakan satu-satunya opsi terbaik yang ada.

Dalam pertemuan di Konferensi Tingkat Tinggi khusus Brussels, mereka menyatakan kesedihan pada akhir yang 'tragis' setelah empat dekade Inggris menjadi anggota Uni Eropa, kini penarikan diri Inggris dari keanggotaan telah ditetapkan.

"Ini kesepakatan terbaik bagi Inggris, juga kesepakatan terbaik bagi Eropa," kata Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker setelah persetujuan tersebut.

Juncker menekankan bahwa, setelah 17 bulan negosiasi yang melelahkan, 'ini adalah satu-satunya kesepakatan yang mungkin', ia pun memperingatkan bahwa pihak yang berpikir menolak kesepakatan, akan akan kecewa.

Kesepakatan tersebut dipersiapkan demi kelancaran keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada 29 Maret 2019 mendatang. Selain itu, para pemimpin Uni Eropa dan Inggrus juga akan tetap mengusung visi kemitraan yang sedekat mungkin setelahnya.

Meski demikian, Perdana Menteri Inggris May harus berjuang untuk mendapatkan persetujuan dalam Majelis Rendah atau lembaga perwakilan di Inggris yang berfungsi untuk mengesahkan undang-undang, melalui pemungutan suara yang direncanakan akan digelar pada bulan depan.

Anggota parlemen dari banyak partai- termasuk Konservatif, partai asal May- mengatakan bahwa mereka akan menentangnya.

"Tentunya tidak akan ada negosiasi ulang dan tidak akan ada ruang lagi untuk manuver," kata Kanselir Austria Sebastian Kurz, yang negaranya memegang jabatan presiden bergilir UE.

May pun menegaskan kembali ketika ia memberi tahu para wartawan di Brussels: "Ini adalah kesepakatan terbaik, ini adalah satu-satunya kesepakatan yang mungkin."

Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar mengatakan 27 pemimpin Uni Eropa telah membuat keputrusan secara sadar untuk tidak membahas apa yang mungkin terjadi jika anggota parlemen menolak kesepakatan itu.

"Tidak ada rencana B," kata Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. Ia menambahkan: "Ini paling maksimal yang kita semua dapatlakukan."

Dia yang berada di antara beberapa pemimpin Uni Eropa mengekspresikan kesedihan bahwa Inggris sekarang selangkah lebih dekat untuk meninggalkan blok.

"Ini adalah pertemuan bersejarah dan juga hari bersejarah yang membangkitkan perasaan ambivalen," kata Kanselir Jerman Angela Merkel.

"Tragis bahwa Inggris meninggalkan Uni Eropa setelah 45 tahun."

Ketika ditanya apakah ia turut merasa sedih, May - yang bergabung dengan 27 pemimpin Uni Eropa lainnya untuk pembicaraan tertutup setelah mereka menyetujui kesepakatan, menjawab: "Tidak, tapi saya menyadari bahwa orang lain melakukannya."

Ia menyatakan bahwa dirinya optimisme tentang masa depan Inggris.

Perjanjian tersebut mencakup masalah keuangan, hak warga negara, ketentuan untuk tetap membuka perbatasan Inggris dengan Irlandia dan pengaturan untuk 21 bulan Fase transisi -Brexit.

Kesepakatan tersebut juga disertai dengan deklarasi politik singkat mengenai harapan untuk hubungan masa depan antara Uni Eropa dan Inggris, termasuk keamanan, perdagangan dan migrasi.

Tapi, sebelum itu dilakukan oleh parlemen Inggris dan Eropa, masih terbuka kemungkinan bahwa Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa adanya kesepakatan baru.

Presiden Parlemen Eropa Antonio Tajani mengatakan "sebagian besar" Parlemen Eropa mendukung kesepakatan itu.

Namun di London, Konservatif dan sekutunya, Irlandia Utara, telah bersumpah untuk menolak kesepakatan yang membuat Inggris terlalu dekat dengan Uni Eropa.

Pemimpin DUP Arlene Foster pada Minggu (25/11) mengatakan bahwa jika itu terjadi, partainya akan 'meninjau' dukungannya dari pemerintah May, dan menyerukan "cara ketiga, cara yang berbeda, cara yang lebih baik".

Namun May mengulangi bahwa kesepakatannya disampaikan pada referendum 2016 lalu, untuk meninggalkan Uni Eropa ialah kepentingan nasional bagi semua orang.

"Orang-orang Inggris tidak ingin menghabiskan lebih banyak waktu berdebat tentang Brexit," katanya kepada wartawan, May menambahkan: "Sudah waktunya bagi negara kita untuk melanjutkan." (OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya