Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pengunjuk rasa antipemerintah terlibat bentrokan sengit dengan polisi Prancis di Champs-Elysees, Paris, Sabtu (24/11).
Dalam menanggapi hal itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron melontarkan kecaman keras terhadap aksi demonstran yang meletus akibat penaikan harga bahan bakar.
Saat bentrokan pecah, untuk menghalau demonstran, petugas menembakkan gas air mata. Para pengunjuk rasa yang mengenakan rompi kuning, sebagai lambang gerakan mereka, melemparkan berbagai macam benda ke barisan polisi yang menghadang mereka maju di sepanjang jalan pusat perbelanjaan terkenal yang telah dihiasi lampu-lampu Natal.
Tidak hanya itu, mereka membangun barikade di beberapa tempat dan merobohkan lampu lalu lintas serta rambu-rambu jalan. Insiden itu mengingatkan pada kerusuhan sipil di Prancis pada 1968 dan pemberontakan pada pertengahan abad ke-19.
“Polisi menangkap 130 orang, 69 di Paris, dan 24 orang terluka. Lima di antara yang terluka ialah petugas polisi, termasuk seorang yang menderita luka bakar,” kata kepolisian kota dan Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner.
Di tempat lain, para pengunjuk rasa mengambil alih gerbang tol dan membiarkan kendaraan lewat secara gratis. Hal itu membuat jalanan menjadi macet. Menurut para demonstran, hal itu merupakan salah satu bentuk protes terhadap penaikan pajak atas bahan bakar mobil, khususnya diesel. Sebagai informasi, kekerasan bermula dalam skala kecil sejak sepekan lalu ketika gerakan rompi kuning menggelar protes nasional pertama mereka.
“Kami di sini tidak untuk memukuli polisi. Kami datang karena kami ingin pemerintah mendengar kami,” kata juru bicara protes, Laetitia Dewalle, 37.
Dia menambahkan, gerakan yang sebagian besar dilakukan secara spontan itu justru mengecam kekerasan yang dilakukan demonstran di pinggiran Prancis.
“Kami baru saja berdemonstrasi secara damai, tapi kami dihadang gas air mata,” kata Christophe, 49, yang melakukan perjalanan dari wilayah Isere di Prancis timur bersama istrinya untuk mengikuti aksi protes di ibu kota.
Sementara itu, menurut Kementerian Dalam Negeri, sebanyak 106 ribu orang terlibat dalam aksi protes yang pecah di seluruh Prancis. Secara rinci, 8.000 pengunjuk rasa beraksi di Paris dan 5.000 di antara mereka menggelar aksi di Champs-Elysees.
Aksi kedua
Presiden Prancis Emmanuel Macron justru mengecam tindakan demonstran yang berakhir bentrok dengan polisi di Paris. ’Orang-orang yang menyerang petugas, memalukan. Tidak ada tempat untuk kekerasan di Republik Prancis’, tulis Macron di Twitter.
Dia merujuk ke kekacauan di Champs-Elysees pada Sabtu ketika polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan para demonstran. Para pengunjuk rasa tersebut ialah orang-orang yang tergabung dalam gerakan rompi kuning.
Insiden pada Sabtu itu merupakan aksi mereka yang kedua sejak pekan lalu. Kelompok itu dinamakan gerakan rompi kuning karena pakaian mereka yang sangat terlihat jelas.
Awalnya, protes mereka berfokus pada penaikan pajak dan harga bahan bakar diesel. Kemudian, gerakan itu berkembang menjadi kemarahan karena peningkatan biaya hidup, khususnya di daerah perdesaan, serta keluhan lainnya terhadap kebijakan Macron.
Untuk meredam aksi tersebut, sebanyak 5.000 polisi telah dikerahkan di Paris. Mereka memasang penghalang logam di sekitar Champs-Elysees untuk menghentikan langkah demonstran mencapai bangunan-bangunan utama, seperti kantor presiden dan majelis nasional. (AFP/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved