Konsulat Tiongkok di Karachi Diserang

Tesa Oktiana Surbakti
24/11/2018 08:30
Konsulat Tiongkok di Karachi Diserang
(ASIF HASSAN/AFP)

SEKELOMPOK orang bersenjata menyerang Konsulat Tiongkok di Karachi, Pakis­tan, kemarin. Serangan kelompok separatis yang menuding Tiongkok sebagai penindas itu, menewaskan dua petugas kepolisian.

Otoritas Pakistan menyatakan pengamanan di sekitar gedung konsulat langsung diperketat pascaterjadinya serangan. Sebelumnya, serangkaian serangan menyasar sejumlah warga Tiongkok, termasuk pekerja yang teribat dalam proyek infrastruktur bernilai miliaran do­lar di Pakistan.

Javaid Alam Odho, petugas kepo­lisian setempat, mengisahkan kro­nologi kejadian. Insiden tersebut berawal saat beberapa pria bersenjata berusaha memasuki gedung konsulat yang berlokasi di wilayah selatan.

Namun, upaya mereka dihalangi petugas di pos pemeriksaan. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan yang menewaskan dua petugas kepolisian.

Salah satu penyerang diketahui memakai rompi bom bunuh diri yang untungnya tidak sempat me­le­dak. Dalam merespons hal itu, Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mehmood Qureshi menegaskan se­luruh tindakan terorisme harus dibasmi.

“Kelompok teroris berusaha me-ne­robos ke dalam Konsulat Tiong-kok. Petugas keamanan dan kepo­li­sian sudah berhasil menguasai pa­ra teroris. Kami pastikan situasi di kedutaan aman dan pengawasan terus berjalan,” ujar Qureshi.

Belakangan diketahui, serangan dilakukan kelompok militan separatis yang berasal dari Balochistan, yakni provinsi di barat daya Pakistan yang menjadi lokasi proyek investasi raksasa Tiongkok.

“Kami yang melakukan serangan itu. Aksi kami masih akan berlanjut. Kami melihat Tiongkok sudah seperti penindas, sama dengan pa­sukan Pakistan,” ucap juru bicara tentara pembebasan Balochistan (BLA), Geand Baloch, kepada AFP me­lalui sambungan telepon dari lo­kasi yang tidak bisa terdeteksi.

Tidak menikmati
BLA merupakan salah satu kelom­pok militan yang berbasis di Balo­chistan, provinsi terbesar sekaligus termiskin di Pakistan. Wilayah ter­­­sebut dipenuhi kelompok pembe­rontak, pengikut ajaran sekte, dan etnik tertentu.

Meski Balochistan dikenal me­nyim­pan kekayaan sumber daya alam, penduduknya tidak pernah merasakan nikmatnya. Masyarakat Balochistan sudah lama mengeluhkan persoalan tersebut.

Seperti diketahui, Tiongkok yang masuk jajaran mitra terdekat Pa­kistan, menggulirkan investasi mi­­liaran dolar ke negara Asia Se­la­tan itu selama beberapa tahun ter­akhir.

Proyek infrastruktur raksasa yang tengah digarap ialah menghubungkan Provinsi barat Xinjiang dengan pelabuhan Laut Arab di Gwadar, Balochistan. Proyek tersebut bagian dari Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan (CPEC).

Salah satu proyek terbesar dalam prakarsa One Belt and One Road ialah pembangunan jaringan infrastruktur jalan dan jalur laut dengan melibatkan 65 negara.

Dalam implementasinya, Pakistan turut berpartisipasi dalam proyek raksasa yang diusung Tiongkok. Hal itu kemudian menghadirkan tantangan besar.

Berbagai persoalan timbul, seperti potensi korupsi endemik hingga pemberontakan di sejumlah daerah yang menjadi jalur lintasan koridor.

Sejak dimulainya proyek, kelom­pok militan kerap menyerang lokasi konstruksi, meledakkan jaringan pipa gas dan sarana kereta api, hingga melukai pekerja asal Tiong­kok.

Pada Agustus lalu, tiga warga Tiongkok luka berat dalam serangan bunuh diri dalam sebuah bus. Para teroris sudah mengintai bus yang membawa insinyur Tiongkok yang bekerja di proyek pertambangan di Balochistan. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya