Bom dalam Sayur Tewaskan 31 Orang

(AFP/Yan/I-2)
24/11/2018 07:15
Bom dalam Sayur Tewaskan 31 Orang
(AFP/ABDUL MAJEED)

SEDIKITNYA 31 orang tewas dan 50 orang ce­dera ketika sebuah bom yang disembunyikan di dalam kardus sayuran meledak di pasar yang ramai di wilayah barat laut Pakistan yang bergolak, kemarin.

“Serangan itu terjadi selama bazar Jumat reguler di Kalaya, sebuah kota di daerah yang didominasi Syiah di distrik suku Orakzai,” kata pejabat lokal senior, Khalid Iqbal kepada AFP. “Menurut penyelidikan awal kami, itu merupakan alat peledak rakitan yang di-sembunyikan di dalam karton sayuran.”

Pejabat lainnya, Ali Jan, membenarkan jumlah korban tersebut. Orakzai merupakan salah satu dari tujuh daerah suku semiotonom yang bergolak di perbatasan Afghanistan, yaitu daerah yang telah lama menjadi titik fokus dalam perang global melawan teror dan pernah digambarkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sebagai tempat paling berbahaya di dunia.

Washington berkukuh bahwa wilayah pegunungan tersebut memberikan tempat perlindungan yang aman bagi kekompok militan, termasuk Taliban Afghanistan dan Al Qaeda.

Namun, tuduhan itu dibantah Islamabad. Pakistan, yang bergabung dengan AS dalam perang melawan teror pada 2001 lalu, mengatakan telah membayar harga mahal untuk aliansi tersebut.

Mereka telah memerangi kelompok-kelompok Islam di sabuk tersebut sejak 2004, setelah pasukan mereka memasuki wilayah itu untuk mencari pejuang Al-Qaeda yang melarikan diri melintasi perbatasan pascainvasi AS ke Afghanistan.

Saat itu, sejumlah operasi militer berdarah telah dilakukan di sana yang secara resmi dikenal sebagai Wilayah Suku yang Dikelola Secara Federal (FATA) dan menampung sekitar lima juta etnik Pashtun.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi keamanan telah membaik, meski serangan berskala kecil masih terjadi. Serangan-serangan tersebut sering menargetkan orang-orang Syiah di daerah itu.
Namun, wilayah tersebut tetap dikenal dunia karena ketersediaan senjata murah dan barang-barang selundupan, narkotika, termasuk ganja dan opium.

Selain hal itu, warga juga mengeluhkan pelecehan yang tidak semestinya dilakukan aparat keamanan.
Di awal 2018, Pakistan meloloskan undang-undang yang membuka jalan bagi wilayah kesukuan untuk bergabung ke provinsi tetangga Khyber Pakhtunkhwa.

Hal ini menyeret Khyber masuk ke arus utama politik dan diprediksi akan memaksakan sistem peradilan Pakistan diatur hukum era kolonial Inggris.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya