Alunan Musik kembali Menggema di Mosul

(AFP/Tesa Oktiana Surbakti/I-1)
23/11/2018 06:30
Alunan Musik kembali Menggema di Mosul
((Photo by Zaid AL-OBEIDI / AFP))

GEMPURAN perang menghapus keindahan yang dimiliki Mosul, kota terbesar ketiga di Irak. Padahal selama berabad-abad Mosul menjadi tempat berkumpulnya musikus terbaik dari berbagai wilayah.

Setidaknya dalam tiga tahun terakhir, begitu Mosul masuk dalam cengkraman kelompok militan Negara Islam (IS), tidak lagi terdengar alunan musik. Pasukan pemberontak memberlakukan larangan bermain musik di seluruh penjuru kota, termasuk menghancurkan instrumen. Mendengar musik pun tidak diperbolehkan.

"Saya harus meninggalkan alat musik di rumah. Tidak mungkin untuk dibawa keluar, pasti akan diambil," ujar Fadel al-Badri, salah satu penduduk setempat yang sengaja menyembunyikan biolanya.

Setelah IS melonggarkan genggamannya terhadap Mosul pada Juli 2017, suasana perlahan kembali hidup. Alunan musik mulai berkumandang. "Begitu dibebaskan, kami mulai mendengar nyanyian. Mosul benar-benar kembali," imbuh Badri yang antusias menyambut perayaan dan festival musik.

Pemain biola berusia 45 tahun itu mengaku senang karena dapat menghirup udara kebebasan. Dia sangat merindukan gemuruh tepuk tangan penonton yang ikut larut seraya bersenandung, saat dirinya memainkan lagu-lagu tradisional.

Musik adalah sejarah Mosul yang tidak terpisahkan. Kota ini bahkan melahirkan Ziryab, seorang musikus yang berhasil menggaungkan oud atau kecapi oriental yang populer di seluruh negara Arab maupun Eropa pada abad ke-9. Salah satu keajaiban bakat musik teranyar ialah Kazem al-Saher. Suara merdunya mampu menyihir telinga penikmat musik di negara-negara kawasan.

Kekayaan warisan musik di Mosul tampaknya tidak berarti di mata kelompok jihadis yang mengambil alih pada 2014. Sebagian wilayah kota hancur dalam serangan kilat. Pejuang IS bahkan menghancurkan patung seniman balad terkenal, Mulla Uthman al-Mosuli. Parahnya, upaya represif bergeser pada ancaman penghancuran instrumen musik. IS turut memaksa musisi di Mosul menandatangani perjanjian untuk tidak bermain atau bernyanyi. Larangan sengaja dipasang di sejumlah fasilitas publik.

"Saya terpaksa tetap tinggal di Mosul karena ibu saya sakit. Rasanya menyakitkan hidup di bawah tekanan dan ketakutan. Apalagi mereka memaksa saya agar menandatangani perjanjian," tutur Ahmed al-Saher, penyanyi berusia 33 tahun.

Tidak hanya musisi yang antusias dalam merayakan kembalinya kebebasan berkesenian, pun masyarakat biasa merasakan hal serupa. "Terorisme gagal memusnahkan cinta penduduk Mosul terhadap seni bermusik. Pasti akan terlahir kembali, meski mengalami kehancuran," pungkas Amneh al-Hayyali yang membawa serta keluarganya dalam konser musik di pusat kebudayaan wilayah Mosul bagian timur.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya