Saudi tidak akan Menoleransi Tudingan

Tesa Oktiana Surbakti
23/11/2018 06:00
Saudi tidak akan Menoleransi Tudingan
((Photo by Fayez Nureldine / AFP))

MENTERI Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, menilai sorotan terhadap kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi cenderung menjatuhkan Putra Mahkota, Muhammad bin Salman. Mulai dari tudingan keterlibatan, hingga keniscayaan Putra Mahkota tidak akan berhasil memegang takhta kepemimpinan.

Dalam wawancara pada Rabu waktu setempat, Jubeir menegaskan seruan agar Putra Mahkota bertanggung jawab atas pembunuhan sadis, sudah melampaui batas. "Kami tidak bisa menoleransi diskusi apa pun yang meremehkan Raja Salman atau Putra Mahkota," pungkas Jubeir kepada BBC.

Senada, kepada jaringan CNBC, Jubeir gigih membela Putra Mahkota, meski Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS) menyim-pulkan besarnya kemungkinan bahwa Putra Mahkota menjadi otak pembunuhan. "Sudah sangat jelas, seperti yang sering ditegaskan, pemerintah Arab Saudi sama sekali tidak terlibat dalam kasus tersebut. Begitu juga dengan Putra Mahkota," kata Jubeir.

Saat disinggung pemberitaan Reuters pekan ini, Jubeir juga tak kalah berang. Dia menepis tudingan yang diklaim mengacu pengakuan sejumlah sumber di pemerintahan, bahwa kasus pembunuhan Khashoggi dapat menghentikan langkah Pangeran Muhammad bin Salman naik takhta setelah ayahnya lengser.

"Pernyataan yang berkembang belakangan ini sungguh keterlaluan. Sama sekali tidak dapat diterima. Kerajaan Arab Saudi berkomitmen penuh dalam menjalankan kepemimpinannya," jelas Jubeir kepada CBS.

Pemerintah Saudi cukup lama menepis segala tudingan yang mengarah pada keterlibatan pembunuhan Khashoggi. Namun, narasi berubah lagi. Pemerintah Saudi akan bertanggung jawab dengan menghukum 21 orang yang terlibat dalam operasi berdarah. "Sebenarnya sudah jelas, bahwa kami tetap fokus menajalankan penyelidikan. Dan kami akan bertanggung jawab atas kasus tersebut," imbuh Jubeir.

Kritik tajam

CEO The Washington Post, Fred Ryan, mengecam keputusan Presiden AS Donald Trump untuk tidak menghukum Arab Saudi atas kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Dalam artikel opini di surat kabarnya, Ryan menggambarkan pernyataan Trump yang mendukung Arab Saudi sebagai pernyataan yang aneh, tidak akurat, dan bertele-tele.

"Pesan yang jelas dan berbahaya telah dikirim ke tiran di seluruh dunia: Miliki cukup uang di hadapan presiden Amerika Serikat, dan Anda akan lolos dari kasus pembunuhan," tulis Ryan, dikutip Arab News.

Khashoggi merupakan kolumnis The Washington Post yang tewas terbunuh di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober. Gedung Putih pada Selasa (22/11) merilis pernyataan resmi dari Trump, yang berjudul Statement from President Donald J Trump on Standing with Saudi Arabia.

"Badan-badan intelijen kami terus menyelidiki semua informasi, tetapi sangat mungkin Putra Mahkota mengetahui tentang peristiwa tragis ini - mungkin dia melakukannya dan mungkin juga tidak!" kata Trump waktu itu.

Trump mempertahankan pendiriannya bahwa AS membutuhkan Arab Saudi karena minyaknya, kese-diaannya untuk melawan Iran, dan kemampuannya untuk melawan terorisme di wilayah tersebut.

Arab Saudi telah memberikan pernyataan yang berbeda-beda atas hilangnya Khashoggi, sebelum menyatakan dia terbunuh dalam sebuah operasi yang dilakukan agen jahat.

"Bagaimanapun keberatannya, orang-orang mungkin harus menutup mata terhadap pembunuhan Khashoggi. Presiden berpendapat, hal itu tidak sepadan dengan kesepakatan senjata AS-Saudi," ungkap Ryan. (Aljazeera//I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya