OECD Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan Melambat

Tesa Oktiana Surbakti
22/11/2018 21:03
OECD Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan Melambat
((Photo by ERIC PIERMONT / AFP))

KONFLIK dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang masih berlanjut, serta kenaikan suku bunga acuan, menghambat laju pertumbuhan ekonomi global. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memprediksi perekonomian tahun depan berjalan lambat.

Kendati demikian, kelompok yang berbasis di Paris tidak melihat adanya resesi atau kelesuan kegiatan perdagangan dan industri di cakrawala. Pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh melambat di bawah proyeksi awal sebesar 3,7%, berubah menjadi 3,5% pada 2019.

Baca juga: Menlu Saudi Berang Putra Mahkota Terus Disudutkan

Wilayah negara berkembang harus waspada. Sebab, pelambatan pertumbuhan ekonomi diprediksi akan memukul sejumlah negara, seperti Brasil, Rusia, Turki dan Afrika Selatan. Melambungnya suku bunga, sebagaimana tercermin dari kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve), berdampak negatif terhadap keberlanjutan investasi.

"Kami menyoroti tren jangka panjang. Kami berharap tidak ada pendaratan keras, namun memang akan banyak risiko. Bagaimanapun pendaratan lunak selalu sulit," ujar Kepala Ekonom OECD, Laurence Boone.

Arus perdagangan bilateral AS-Tiongkok mengalamai penurunan, pasca keduanya meningkatkan serangan tarif terhadap komoditas impor bernilai miliaran dolar. Selain itu, negosiasi keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) pun berkontribusi menambah ketidakpastian mengenai arus perdagangan antara Uni Eropa dan Inggris.

OECD menggarisbawahi dampak ketegangan perang dagang yang dapat memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) global hingga 0,8% pada 2021. Faktor yang mempengaruhi turut bersumber dari perluasan kebijakan pemotongan pajak. Proyeksi OECD untuk AS pada 2018 juga tidak berubah dari patokan awal, di mana realiasi PDB bisa menyentuh level 3%. Adapun laju PDB pada 2020 diprediksi lebih rendah tapi tetap melampaui 2%. Hal itu dipengaruhi efek pelonggaran kebijakan pemangkasan pajak, berikut penurunan tarif yang mendatangkan benefit bagi korporasi.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan terus melambat ke level terendah dalam 30 tahun terakhir, yakni 6% pada 2020. Dalam hal ini, Beijing tampak berusaha keras untuk mengelola dampak yang ditimbulkan konflik dagang. Selanjutnya, prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa diprediksi melemah menjadi 1,6% pada 2020.

Bisa dikatakan kebijakan penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Eropa, belum ampuh mendorong pertumbuhan ekonomi. Pun faktor lain dipengaruhi kekhawatiran terhadap dampak Brexit. Salah satu negara di Eropa yang akan mengalami pelambatan ekonomi mendalam ialah Italia. Proyeksi PDB pada 2019 sekitar 0,9% atau turun dari perkiraan 2018 sebesar 1%.(CNBC/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya