Wajah Baru Erasmus Huis Perkuat Diplomasi

(Tesa Oktiana Surbakti/ I-1)
22/11/2018 06:30
Wajah Baru Erasmus Huis Perkuat Diplomasi
( ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

STRATEGI diplomasi bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk melalui budaya. Selama bertahun-tahun, Kedutaan Besar Belanda di Jakarta menghadirkan pusat kebudayaan bernama Erasmus Huis.

Reputasinya di Tanah Air terbilang baik, berhasil mengampanyekan karakteristik budaya 'Negeri Kincir Angin'. Tidak hanya berfokus pada pertunjukkan musik, tetapi juga perhelatan pameran, pemutaran film, hingga diskusi publik. Erasmus Huis berupaya memberikan ruang bagi seni, pelaku seni, maupun kelompok masyarakat.

"Memang fungsinya (Erasmus Huis) sudah berjalan cukup baik. Tapi bagaimanapun diplomasi terus berkembang, begitu juga masyarakat di sini. Kami merasa penting untuk mengubah kedutaan menjadi lebih modern, termasuk Erasmus Huis, serta lebih terbuka," tutur Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Rob Swartbol, kepada sejumlah media.

Modernisasi lembaga kebudayan yang terinspirasi filsuf besar, Desiderius Erasmus, menyasar pada program kegiatan dan tampilan lokasi. Perubahan wajah Erasmus Huis juga dilandasi kepentingan untuk memperkuat relasi dengan Indonesia.

Menurutnya, kehidupan bermasyarakat di Indonesia terbilang unik, apalagi budayanya sangat beragam sehingga diplomasi melalui budaya masuk dalam strategi unggulan untuk mempererat hubungan bilateral. "Kami harap wajah yang baru ini mampu memuaskan rasa penasaran pengunjung. Entah dengan membaca buku di perpusatakaan, menghadiri kegiatan budaya, atau lainnya," imbuh Wakil Direktur Erasmus Huis Joyce Nijssen.

Satu hal yang menarik perhatian Media Indonesia saat berkeliling Erasmus Huis ialah fasilitas perpustakaan. Jumlah koleksi pustaka 15 ribu buku, termasuk literatur mengenai Belanda dan Indonesia. Dengan luas ruangan yang mampu menampung cukup banyak orang, area perpustakaan bertransformasi dari sisi fungsinya.

"Kami ingin memberikan pengalaman multidimensi. Bagaimana Erasmus Huis menjadi platform berdiskusi, bahkan untuk isu sensitif seperti LGBT atau proses imigrasi. Diskusinya terbuka, baik dari sisi Indonesia maupun Belanda," ucap Rob menimpali.

Semakin menyempurnakan pertunjukan musik maupun drama, pihak kedutaan turut memperbarui wajah auditorium berkapasitas 350 orang. Desain yang menawan diperkuat dengan kualitas audio kelas atas. Galeri pameran yang mewadahi beragam karya seni, diperluas sekitar 80 meter persegi. Didukung pencahayaan apik, atmosfer galeri langsung menyambut hangat pengunjung.

Erasmus Huis resmi kembali dibuka bagi publik pada 23 November, yang ditandai sejumlah performa menarik. Kendati wajah sudah baru, pihak kedutaan tidak memasang target jumlah pengunjung. Untuk menikmati fasilitas atau menghadiri agenda Erasmus Huis, pengunjung jarang dibebankan biaya.

"Yang jelas dalam tiga tahun terakhir, jumlah pengunjung terus bertambah. Kami fokus pada kualitas daripada kuantitas. Lebih baik melihat 10 orang berkumpul lalu berdiskusi aktif ketimbang ratusan orang pengunjung tapi hanya mendengar saja," jelas Direktur Erasmus Huis Michael Rauner.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya