Skandal Ghosn, Bongkar Tata Kelola Nissan yang Buruk

(AFP/Yan/I-1)
22/11/2018 06:20
Skandal Ghosn, Bongkar Tata Kelola Nissan yang Buruk
( (Photo by Toru YAMANAKA / AFP))

KRISIS di perusahaan otomotif Nissan makin dalam pada Rabu (21/11) ketika raksasa mobil Jepang itu harus menghadapi tuduhan atas dugaan pelanggaran keuangan yang mengarah pada penangkapan CEO Carlos Ghosn.

Penangkapan, Senin (19/11), terhadap taipan otomotif itu mengirimkan gelombang kejut pada sektor mobil global dan perusahaan Jepang.

Harian Asahi Shimbun mengatakan pada Rabu bahwa jaksa Tokyo yakin Nissan juga memiliki kasus terkait laporan paket Ghosn sekitar lima miliar yen (US$44,5 juta) selama empat tahun. Baik Nissan maupun pihak berwenang menolak berkomentar mengenai laporan itu.

Dewan Nissan akan memutuskan, Kamis (22/11), apakah akan melepas taipan berusia 64 tahun itu sebagai CEO. Ini bakal mengejutkan pengusaha kelahiran Brasil yang telah menciptakan aliansi tiga arah yang bersama-sama menjual lebih banyak mobil di seluruh dunia daripada pembuat mobil lainnya.

Nasib Ghosn akan jelas setelah penggantinya, Hiroto Saikawa, sebagai CEO mengatakan terlalu banyak otoritas di tangannya dan meratapi sisi gelap era Ghosn. Dia dengan tegas menolak untuk menawarkan permintaan maaf yang mendalam yang biasanya selalu menyertai skandal perusahaan di Jepang dan mengecilkan peran yang dimainkan Ghosn.

Ghosn dulunya ialah kesayangan perusahaan dan populer di Jepang. Bahkan ada komik manga yang terinspirasi olehnya dan telah mempererat ikatan kerja sama mobil bersama sejak 1999.

"Ghosn kemungkinan ialah pemimpin asing yang paling sukses di Jepang," kata Kosuke Sato, seorang ekonom senior di Japan Research Institute.

"Apa yang dia lakukan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perusahaan Jepang."

Dia memiliki reputasi sebagai seorang workaholic dan memenangi julukan 'Le Cost Cutter' di Prancis untuk pendekatan restrukturisasi perusahaan.

Di bawah pengawasannya, kerja sama Nissan dan Renault menjadi sangat terjalin. Renault memiliki 43% dari Nissan yang merupakan perusahaan Jepang sementara pada gilirannya memiliki 15% saham di Renault.

Nissan menjadi pemain kunci aliansi itu dengan membukukan penjualan 12 triliun yen (US$106 miliar) tahun lalu.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya