Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan tetap bergandengan tangan dengan Arab Saudi sekalipun mengamini kemungkinan adanya keterlibatan Putra Mahkota Muhammad bin Salman dalam kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.
"Bisa jadi Putra Mahkota memiliki pengetahuan mengenai peristiwa tragis itu. Mungkin dia terlibat, dan mungkin juga tidak! Kami mungkin tidak pernah tahu seluruh fakta seputar kasus pembunuhan Khashoggi. Namun, bagaimanapun, AS tetap bermaksud menjalin kemitraan yang kuat dengan Saudi," ujar Trump melalui pernyataan resmi.
Kasus pembunuhan yang mencabut nyawa kolumnis The Washington Post mulai terendus ketika Khashoggi dinyatakan menghilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu. Kematian Khashoggi menorehkan catatan kelam terhadap kepemimpinan Putra Mahkota, yang menggaungkan perubahan citra negara Islam konservatif ke arah jalur reformis baru.
Selama beberapa pekan, Trump seakan menepis berbagai bukti yang semakin kuat menunjukkan keterlibatan pemerintah Saudi dalam kasus pembunuhan Khashoggi. Itu termasuk menyampingkan tuduhan Putra Mahkota yang memberi perintah atas serangan di gedung konsulat. Setelah The New York Times menerbitkan pemberitaan laporan CIA yang secara definitif menyimpulkan keterlibatan Putra Mahkota, fokusnya beralih ke langkah Trump yang akan menjatuhkan sanksi kepada Saudi, atau malah mencari cara untuk melepaskannya.
Trump nyatanya mengambil opsi terakhir. Dia menekankan hubungan kemitraan AS-Saudi lebih penting daripada memikirkan keterlibatan Putra Mahkota dalam kasus pembunuhan.
Trump menyoroti sikap Raja Salman dan Putra Mahkota yang dengan keras menyangkal semua tudingan terkait dengan rencana yang berujung mengakhiri nyawa Khashoggi. Di lain sisi, Saudi disebutnya memiliki peranan besar dalam perjuangan AS untuk menghalau ambisi Iran, serta adanya komitmen senilai US$450 miliar, atau Rp6.568 triliun, untuk kontrak pembelian senjata AS dan investasi lainnya. Pun, Saudi berkontribusi menjaga harga minyak dunia bergerak rendah.
"AS berniat menjadi mitra kuat Saudi untuk memastikan kepentingan negara kita, Israel, dan semua mitra lain di kawasan," imbuh Trump.
Tekanan Kongres AS
Keputusan Trump yang mendukung Saudi menuai kecaman di mana-mana. Kecaman itu datang tidak saja dari Partai Demokrat, tetapi juga dari Republik yang notabene merupakan sekutu Trump.
Senator Bob Corker yang juga menjabat Ketua Komite Luar Negeri Senat AS mengatakan, "Saya tak menyangka bakal mengalami hari dengan Gedung Putih menjadi juru bicara Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS)," keluh Corker di Twitter.
Selain Corker, dua politikus Republik lain, Jeff Flake dan Rand Paul, menulis cicitan kecaman mereka kepada Trump. "Sekutu yang baik tak akan membunuh jurnalis. Sekutu yang baik tak bakal menjebak warganya sendiri dan membunuh mereka," kata Flake.
Paul menyeru kepada Kongres AS agar bertindak dengan tidak meluluskan penjualan senjata kepada Riyadh sehingga bisa dipakai menghancurkan warga sipil lainnya.
Senator Demokrat Dianne Feinstein menegaskan bakal menghalangi segala bentuk penjualan senjata kepada Saudi di masa depan. "Hak asasi manusia lebih dari sekadar kata-kata. Kalimat itu berarti sesuatu bahwa kami harus bertindak dan mencegah pembunuhan dari negara lain," tegas Feinstein seperti dikutip dari Al Jazeera. (AFP/Tes/Yan/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved