Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETAHUN lamanya menghilang di dasar Samudera Atlantik, bangkai kapal selam milik Argentina berhasil ditemukan. Peristiwa tragis di wilayah perairan itu menewaskan 44 awak kapal, dan menjadi tragedi terburuk dalam beberapa puluh tahun terakhir.
Tim ahli yang mencari keberadaan kapal selam bernama ARA San Juan, menyatakan butuh dana lebih dari US$ 1 miliar untuk mengangkat bangkai kapal ke permukaan. Menteri Pertahanan Argentina, Oscar Aguad, membenarkan besarnya anggaran untuk mencari kapal yang hilang.
Reruntuhan kapal selam ditemukan di titik kedalaman lebih dari 800 meter atau sekitar 2600 kaki. Pihak Angkatan Laut Argentina mengonfirmasi kapal tersebut sebelumnya telah meledak. Keluarga maupun rekan korban, terlihat saling berpelukan dan memegang kepala mereka seraya menitikkan air mata, saat mengetahui kabar tersebut. Peristiwa tenggelamnya kapal ikut membawa pergi sejumlah perwira tinggi Angkatan Laut Argentina selama-lamanya.
Baca juga: Pemimpin APEC Putar Otak Demi Tercapainya Kesepakatan Netral
The Seabed Constructor, kapal pencarian milik perusahaan asal Amerika Serikat (AS), berhasil melakukan penemuan. Tepatnya sehari setelah peringatan satu tahun menghilangnya kapal selam ARA San Juan. Adapun, kapal pencarian mulai menggencarkan operasi sejak September lalu. Pihak Angkatan Laut Argentina mulai hilang kontak dengan kapal selam pada 15 November 2017, sekitar 450 kilometer (km) dari tepi pantai. Kapal selam yang hilang berada dalam misi perjalanan ke ujung selatan Argentina.
Kepala Angkatan Laut Jose Villan, mengungkapkan medan berat di dasar laut menyulitkan operasi pencarian kapal selam tersebut. Bangkai kapal terpantau sudah hancur menjadi beberapa potongan dengan panjang sekitar 11-30 meter. Bahkan, terlihat zona seperti kawah di tengah badan kapal yang mengindikasikan adanya ledakan di dalam. Pihak Angkatan Laut secara khusus bertemu dengan anggota keluarga korban. Mereka ditunjukkan sejumlah foto yang diambil robot bawah air. Beberapa foto menunjukkan baling-baling kapal, tabung torpedo, hingga lapisan dek, yang tergeletak di dasar laut.
"Saya masih memiliki harapan mereka bisa ditemukan, dalam kondisi hidup," ucap ayah dari salah satu marinir, Luiz Niz, dengan suara parau. Namun, pemerintah Argentinya menyatakan tidak ada korban yang bisa selamat.
Peristiwa tragis itu menorehkan luka mendalam bagi keluarga korban. Sejumlah anggota keluarga kroban yang tergabung dalam kelompok kecil, melakukan aksi protes di luar markas Angkatan Laut Agrentina. Mereka memegang spanduk bertuliskan "44", sebagai simbol hilangnya 44 awak kapal. Spanduk lain berbunyi seruan "Jangan Lupa!".
Pengacara keluarga korban, Sonia Krescher, mempertanyakan waktu penemuan kapal yang dinilai janggal. Pasalnya, hanya satu hari setelah peringatan setahun hilangnya kapal. "Kami ingin penjelasan detail apa yang sebenarnya terjadi, termasuk rekonstruksi. Kami ingin melihat di mana jasad keluarga korban," pungkasnya. Senada, Cecila Kaufmann, yang kehilangan suaminya Luis Leva, mendesak agar jasad orang-orang yang dicintai juga ditemukan, bukan hanya bangkai kapal.
Dalam peringatan satu tahun hilangnya kapal San ARA San Juan, Presiden Argentina Mauricio Macri, menegaskan urgensi pengungkapan hasil penyelidikan secara utuh. Kendati demikian, dia belum bisa memastikan apakah ada upaya untuk menaikkan bangkai kapal ke permukaan.
Operasi pencarian yang dilakukan The Seabed Constructor, dilengkapi kamera yang mampu menembus kedalaman 6000 meter. Kapal pencarian itu pun siap menerima hadiah sebesar US$ 7,5 juta. Para ahli memaparkan kapal selam hancur imbas tekanan air begitu jatuh di kedalaman 600 meter. Sejauh ini, dugaan mengarah pada kerusakan katup yang mengakibatkan rembesan air ke dalam badan kapal.
Hilangnya kapal seram ARA San Juan menjadi tragedi besar pertama yang mengguncang Angkatan Laut Argentina, sejak Perang Falklands pada 1982. Kritikan tajam menghamipiri penanganan kasus yang dilakukan Angkatan Laut Argentina. Sebagian memandang langkah yang diambil cenderung lamban, setelah kapal dilaporkan hilang.
Setidaknya dibutuhkan waktu 10 hari untuk menyatakan adanya ledakan di dalam kapal, namun kalangan pengamat memandang adanya kemungkinan masalah bilateral. Misi pencarian melalui udara dan laut pun melibatkan 13 negara. Argentina telah menghabiskan anggaran lebih dari US$ 25 juta untuk operasi pencarian.(AFP/OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved