Pemimpin APEC Putar Otak Demi Tercapainya Kesepakatan Netral

Tesa Oktiana Surbakti
18/11/2018 16:00
Pemimpin APEC Putar Otak Demi Tercapainya Kesepakatan Netral
( (Photo by SAEED KHAN / AFP))

PARA pemimpin dari 21 negara kawasan Asia-Pasifik harus berpikir keras untuk menjembatani perbedaan yang mengemuka, pasca Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok saling melontarkan kritikan tajam. 

Kedua anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dengan ekonomi paling kuat, larut dalam pusaran perang dagang setahun terakhir.

Sebelum mengakhiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC yang berlangsung di Port Moresby, Papua Nugini, para pemimpin negara berupaya merumuskan pernyataan resmi bersama yang tidak kontroversial, serta mampu mendorong intergrasi ekonomi lebih mendalam. 

Dengan waktu yang tersisa beberapa jam, para pemangku kepentingan harus membentuk cukup banyak konsensus untuk mengeluarkan pernyataan resmi bersama, khususnya di tengah perbedaan kebijakan perdagangan.

Pertemuan tahunan dibayangi pidato dari Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Wakil Presiden AS Mike Pence, yang secara bergantian menggencarkan tawaran untuk meraih dukungan kepemimpinan regional. Saat mendapatkan kesempatan berbicara, Pence mengingatkan negara-negara kecil di kawasan agar tidak tergoda program infrastruktur yang digaungkan Tiongkok, Belt and Road Initiative. 

Dia menekankan pinjaman yang ditawarkan Tiongkok pada akhirnya menambah beban utang, walau ditujukan untuk proyek infrastruktur pembangunan. Pence menuding Tiongkok menjalankan inisiatif yang membatasi dan satu arah.

 

Baca juga: Tiga Agenda Utama Presiden di APEC 

 

Pence juga mengimbau negara-negara kawasan tetap berdekatan dengan AS, yang disebutnya tidak akan menenggelamkan negara mitra dalam lautan utang. Pun, lanjut dia, AS tidak akan mengganggu kedaulatan negara lain. 

Adapun dalam pidato sebelum Pence, Xi menegaskan prakrasa Belt and Road Inisiative bukan jebakan, apalagi memiliki agenda tersembunyi. Xi menyadari adanya tudingan yang mengarah pada Belt and Road Insiative dengan julukan "buku cek diplomasi" di wilayah kawasan. 

Di samping itu, Xi mengencam kebijakan proteksionisme perdagangan "America First", serta menyebutnya sebagai pendekatan jangka pendek yang ditakdirkan gagal.

Dalam sesi santap malam yang dihadiri seluruh pemimpin APEC pada Sabtu (17/11) malam, Xi maupun Pence tampak mengenakan kemeja berwarna merah berkilauan yang disediakan tuan rumah. Akan tetapi waktu kebersamaan mereka relatif singkat. 

Beberapa hadirin menyuarakan kekhawatiran atas dampak konflik dagang terhadap pereknomian global. Pun, persaingan dua negara raksasa berpotensi melumpuhkan the Pacific Rim economy.

"Pemimpin bisnis seperti tidak ingin berbicara langsung, tetapi di belakang layar sembari makan malam, mereka saling berbicara. Lalu mengatakan "Bagaimana hal ini bisa terjadi?". Ini adalah situasi yang menyulitkan di mana satu negara memaksa negara lain mengikuti perubahan tarif sudah berjalan selama bertahun-tahun," pungkas Denis O'Brien, pemimpin Digicel Group.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, memutuskan absen dari perhelatan tahunan. Situasi tersebut menjadi peluang bagi Xi untuk mendapat sorotan, dengan tiba dua hari lebih awal. Agendanya ialah membuka sekolah dan infrastruktur jalan di Port Moresby, yang pembiayaannya disokong Tiongkok. 

Seakan ingin menggeser dominasi pengaruh Tiongkok, AS bersama Australia, Selandia Baru dan Jepang, mengumumkan proyek peningkatan kapasitas listrik di Papua Nugini. 

Pembangunan proyek berbasis energi tersebut bertujuan untuk menigkatkan akses kelistrikan bagi masyarakat Papua Nugini, dari rasio elektrifikasi 13% ditargetkan menjadi 70%. (AFP/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya