Proteksionisme Ditakdirkan Gagal

Tesa Oktiana Surbakti
18/11/2018 10:10
Proteksionisme Ditakdirkan Gagal
(Saeed KHAN/AFP)

TIONGKOK dan Amerika Serikat menggunakan ajang Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pacific Economic Cooperation (KTT APEC) untuk saling membela kebijakan perdagangan masing-masing.

Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pemaparannya di pertemuan pendahuluan, KTT CEO APEC, kemarin, mengungkapkan proteksionisme AS ialah langkah jangka pendek yang ditakdirkan berujung pada kegagalan.

"Upaya membangun pembatas dan memangkas hubungan ekonomi itu melawan hukum ekonomi dan rekam jejak sejarah. (Proteksionisme) Ini pendekatan jangka pendek yang sudah pasti gagal," kata Xi.

Sebagai anggota APEC, dalam setahun terakhir, AS dan Tiongkok terlibat perang dagang dengan memberlakukan tarif impor terhadap komoditas bernilai miliaran dolar AS. Para pengamat menilai konflik dagang itu akan membawa bencana bagi perekonomian dunia.

"Kami percaya semua masalah dapat diselesaikan melalui konsultasi. Iklim ekonomi global makin terbuka, inklusif, seimbang, dan menguntungkan semua pihak," lanjut Xi.

Xi menyeru kepada semua negara di kawasan agar menganut sistem perdagangan multilateral berbasis ketentuan WTO. Xi pun memastikan tidak ada agenda geopolitik di balik Insiatif Belt and Road yang digagas Tiongkok sejak 2013. Proyek jumbo yang melibatkan 60 negara itu diproyeksikan menelan anggaran sebesar US$124 miliar.

"Kami ingin memperluas jaringan darat dan laut dengan Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, Eropa, dan Afrika. Ini bukan jebakan."

Kedaulatan negara
Dalam menanggapi pernyataan Xi, Wakil Presiden AS Mike Pence menekankan negaranya kukuh mengenakan tarif dan menunda transfer teknologi sampai Tiongkok mengubah praktik perdagangannya.

"Kami siap menghadapi negara yang tidak adil. Kami menghormati Presiden Xi dan juga Tiongkok. Sayang, bertahun-tahun Tiongkok memanfaatkan AS dan kini masa itu sudah berakhir," ujar Pence.

Pence mengkhawatirkan sejumlah negara yang masuk lingkaran proyek infrastruktur dalam Inisiatif Belt and Road yang kini kesulitan menyelesaikan beban utang. "Jangan menerima utang yang membahayakan kedaulatan Anda."

Seperti diketahui, Sri Lanka meng alihkan kegiatan komersial pelabuhan utama di Kota Hambantota kepada Tiongkok Desember tahun lalu sebagai bagian dari Inisiatif Belt and Road. Sri Lanka mendapat pinjaman US$6 miliar dari Tiongkok untuk proyek tersebut.

PM Australia Scott Morrison termasuk pemimpin yang juga mengecam proteksionisme karena berdampak buruk pada ekonomi global. "Perdagangan itu mestinya menguntungkan semua pihak."

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin absen dalam KTT APEC di Papua Nugini, 17-18 November. Namun, Trump dijadwalkan bertemu Xi pada pertemuan G-20 di Argentina akhir bulan ini untuk menurunkan tensi perang dagang.

Kemarin, Presiden Indonesia Joko Widodo menggelar pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di Hotel Stanley, Port Moresby.

Kedua pemimpin membahas sejumlah hal terkait perdagangan. Jokowi berharap kedua negara be kerja sama mengatasi defisit perdagangan RI-Tiongkok melalui fasilitas kemudahan ekspor buah-buahan tropis dan pembebasan kuota untuk produk besi baja Indonesia.

"Saya juga ingin wisatawan Tiong-kok datang ke Indonesia khususnya Bali dan 10 Bali baru," tandas Jokowi.(Pol/AFP/channelnewsasia/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya