AS Dan Tiongkok Saling Kritik Dalam KTT APEC

Tesa Oktiana Surbakti
17/11/2018 18:23
AS Dan Tiongkok Saling Kritik Dalam KTT APEC
(Saeed KHAN/AFP)

AMERIKA Serikat (AS) dan Tiongkok saling melempar kritikan terkait aspek perdagangan, investasi dan keamanan regional, dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Adanya gesekan yang berkembang, sepertinya mempersempit prospek konsensus pada pertemuan tersebut.

Saat berbicara di Port Moresby, Papua Nugini, Wakil Presiden AS Mike Pence, menekankan pihaknya tidak akan mengakhiri pemberlakuan tarif sampai Tiongkok mengubah praktik perdagangannya, berikut transfer teknologi. Neraca perdagangan AS terhadap Tiongkok terus mengalami defisit. Adapun sebelumnya, Presiden Tiongkok Xi Jinping, mengingatkan bayangan proteksionisme dan unilateralisme mengancam pertumbuhan ekonomi global.

"Kami siap menghadapi negara-negara yang menggunakan praktik perdagangan tidak adil. Lihat saja sikap yang diambil Presiden AS Donald Trump terhadap hubungan perdagangan dengan Tiongkok. Seperti dikatakan Presiden Trump, kami menghormati Presiden Xi begitu juga Tiongkok. Sayangnya, Tiongkok memanfaatkan AS selama bertahun-tahun dan masa itu telah berakhir," papar Pence.

Dalam hal ini, pernyataan Pence menanggapi pesan yang diutarakan Xi dalam pertemuan pendahuluan, KTT CEO APEC. Pada kesempatan itu, Xi mengatakan perang dagang tidak ditakdirkan menghasilkan pemenang. Dia pun menyerukan negara-negara kawasan untuk menegakkan sistem perdagangan multilateral berbasis ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Aturan yang sudah dibuat, tidak boleh dilanggar karena dianggapi tidak cocok. Semestinya tidak ada penerapan standar ganda untuk agenda yang menguntungkan diri sendiri," tukas Xi.

Di samping itu, Pence mengkritisi secara langsung program Belt and Road yang diprakarsai Tiongkok terhadap negara-negara di Asia Pasifik. Menurutnya, terlebih anggota APEC, seharusnya tidak mengambil utang yang mengancam kedaualatan domestik. "Kami saja tidak menawarkan sabuk yang membatasi, atau jalan satu arah. Ketahuilah AS menawarkan opsi yang lebih baik. Kami tidak menyeret mitra kami dalam lautan utang. Iklim perjanjian AS terbuka dan adil. Kami ingin bermitra dan menguntungkan semua pihak," ujar Pence di hadapan para pemimpin negara.

Langkah Tiongkok untuk meraup dukungan dari negara-negara di regional Pasifik yang kaya akan sumber daya, telah diwaspadai oleh kekuatan yang secara tradisional memiliki pengaruh, yakni Australia dan AS. Strategi yang digencarkan Xi, memicu kekhawatiran Barat ketika pihaknya mengadakan pertemuan khusus dengan sejumlah pemimpin negara, yang ditengarai membahas inisiatif Belt and Road.

Sebelum mendapat kritikan dari Pence, Xi menegaskan tidak ada agenda geopolitik di belakang rencana Belt and Road. Dia menekankan tujuan utamanya ialah meningkatkan perluasan jaringan hubungan darat dan laut dengan Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, Eropa dan Afrika.

"Inisiatif itu tidak mengecualikan siapapun, karena bukan klub eksklusif yang tertutup bagi non-anggota. Pun, ini juga bukan jebakan, mengingat adanya tuduhan dari beberapa pihak," ucap Xi.

Lebih lanjut, Pence mengungkapkan kekhawatiran terhadap negara-negara kecil yang masuk dalam lingkaran proyek infrastruktur, akan menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan beban utang. "Jangan menerima utang luar negeri yang membahayakan kedaulatan anda. Lindungi kepentingan dan pertahankan kemandirian anda," imbuh Pence yang mengklaim AS sebagai mitra investasi terbaik karena mendahulukan kepentingan negara mitra.

Seperti diketahui, Sri Lanka resmi mengalihkan kegiatan komersial pelabuhan utama di Kota Hambantota, kepada investor Tiongkok pada Desember lalu, sebagai bagian dari inistiatif Belt and Road. Proyek tersebut menelurkan pinjaman sebesar US$ 6 miliar, dari Tiongkok kepada Sri Lanka.

Selain Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin, juga absen dari KTT APEC. Namun, Trump dan Xi dijadwlkan bertemu pada pertemuan G20 di Argentina akhir bulan ini. Diharapkan pertemuan dua pemimpin negara dengan ekonomi raksasa, bisa meredakan tensi perang dagang. Dalam setahun terakhir, kedua negara saling melemparkan tarif terhadap komoditas impor senilai ratusan miliar dolar, yang masih dibayangi ancaman kenaikan tarif.(Channelnewsasia/OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya