Ratusan Migran Capai Perbatasan AS

(Telegraph/I-1)
16/11/2018 06:00
Ratusan Migran Capai Perbatasan AS
( (Photo by Guillermo Arias / AFP))

SEKITAR 400 imigran Amerika Tengah yang melakukan perjalanan melalui Meksiko untuk mencari suaka di AS tiba di kota perbatasan Tijuana.

Kelompok itu, terdiri dari sekitar 80 pencari suaka LGBT. Mereka memisahkan diri dari kelompok lebih besar yang terdiri dari 5.000 orang di Mexico City.

Kelompok yang lebih besar diharapkan mencapai perbatasan dalam beberapa hari mendatang.

Pemerintah AS mengatakan bahwa mereka mulai bekerja untuk memperketat penjagaan perbatasan dari Tijuana, Meksiko, untuk mempersiapkan menghadapi kedatangan kelompok migran yang sedang melintasi wilayah Meksiko barat.

Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan mengumumkan telah menutup empat lajur di Pelabuhan San Ysidro dan Otay Mesa yang sibuk di San Diego, California.

Disebutkan bahwa penutupan itu diperlukan untuk memosisikan infrastruktur pelabuhan untum persiapan menghadapi migran dan risiko keselamatan dan keamanan yang bisa ditimbulkan.

Menteri Pertahanan AS James Mattis akan mengunjungi perbatasan pada Rabu (14/11). Ini merupakan kunjungan pertamanya sejak ribuan pasukan AS dike-rahkan.

San Ysidro merupakan perbatasan tersibuk dengan sekitar 110.000 orang memasuki AS setiap hari. Lalu lintas itu mencakup sekitar 40.000 kendaraan, 34.000 pejalan kaki, dan 150-200 bus.

Kelompok pertama sekitar 350 orang, berhasil mencapai Tijuana pada Selasa. "Kedatangan kelompok LGBT di kota perbatasan Mek-siko telah menimbulkan reaksi marah dari warga setempat," kata aktivis hak asasi.

Para pencari suaka ada di antara ribuan migran yang berjalan melalui Meksiko menuju Amerika Serikat. Mereka berpisah dari kelompok yang pada awalnya mereka lalui dengan setelah mengalami diskriminasi dari orang lain di dalam kelompok.

Fergie Bibiana Andersen dari kelompok advokasi Diversidad sin Fronteras mengatakan para migran LGBT telah dilecehkan secara verbal di Tijuana dan juga terancam di media sosial.

"Mereka diserang oleh kota," kata Andersen.

Amnesty International mengatakan diskriminasi itu menyoroti kesulitan yang lebih luas yang dihadapi pencari suaka saat mereka melintasi Meksiko, termasuk peningkatan kekerasan dan peleceh-an dari pemerintah setempat.

"Kami telah mengidentifikasi mereka sebagai salah satu kelompok paling rentan dalam konteks mobilitas," kata Carolina Jimenez, Direktur Penelitian untuk Amerika pada Amnesty International.

Presiden AS Donald Trump mengambil sikap tegas terhadap kelompok migran, yang memulai perjalanannya ke utara pada 13 Oktober.

Trump telah menandatangani keputusan menangguhkan pemberian suaka bagi mereka yang melintasi perbatasan secara ilegal. Ini langkah untuk memperlambat klaim di pintu masuk.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya