Delapan WNI di Yaman Bebas

Andhika Prasetyo
31/3/2015 00:00
Delapan WNI di Yaman Bebas
Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri(MI/PANCA SYURKANI)

DELAPAN dari 23 warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap dan dipenjara petugas pemerintah Yaman telah dibebaskan. Namun, 15 WNI lainnya masih ditahan. Mereka berurusan dengan pihak keamanan karena masalah keimigrasian.

"Sebelum saya masuk ke ruangan ini, saya mendapat kabar bahwa ada enam lagi WNI yang ditangkap dan ditahan di penjara Shumayla telah dibebaskan. Jadi, hingga saat ini (kemarin) sudah delapan yang dibebaskan," ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat mengadakan press briefing di Gedung Kemenlu, Jakarta, kemarin.

Retno melanjutkan bahwa delapan WNI yang telah dibebaskan itu sudah berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Yaman.

"Mereka ditahan tidak di satu tempat, terpencar di beberapa tempat berbeda," ujarnya.

Menurut Menlu, 23 WNI ditangkap karena melanggar peraturan keimigrasian.

"Mereka overstay dan tidak memperpanjang izin tinggal."

Untuk memastikan dan membebaskan WNI itu, kata Retno, petugas KBRI harus mendatangi semua penjara yang ada di Sana'a, ibu kota Yaman.

"Keadaan di Sana'a kini sangat mencekam. Mobilitas sangat sulit. Komunikasi juga tidak bisa diandalkan. Satu-satunya cara ialah dengan mendatangi setiap penjara."

Karena semakin memburuknya situasi di Sana'a, pemerintah akan mengevakuasi WNI demi keselamatan.

Ada tiga jalur untuk keluar, yaitu melalui darat, udara, dan laut.

Untuk evakuasi, Menlu mengaku sudah berkoordinasi dengan Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

"Setelah dapat jenis pesawat apa dan kapan waktunya, kami akan langsung meminta izin terbang, baik dari Hudaida (Yaman) ataupun dari wilayah negara tetangga, Oman dan Arab Saudi."

Menurut data Kemenlu, WNI yang berada di Yaman berjumlah 4.159 orang.

Sebanyak 2.626 mahasiswa, 1.488 pekerja perusahan minyak dan gas, dan 45 sisanya staf kedubes.

Terus digempur

Hingga kemarin, sejumlah titik di Yaman yang menjadi markas pemberontak Syiah Houthi terus digempur jet-jet tempur pasukan koalisi Arab Saudi.

Menurut saksi, jet-jet mulai menembakkan roket dan bom pada Minggu (29/3) pukul 21.00 waktu setempat.

Target serangan pasukan koalisi di hari kelima itu meliputi posisi Houthi di dekat Istana Kepresidenan, kamp pemberontak di Sana'a selatan, juga fasilitas radar dan peluncur rudal di Marib, yang berjarak sekitar 140 kilometer arah timur Sana'a.

Pejabat diplomatik koalisi negara-negara Teluk yang tidak disebut namanya menyatakan anak laki-laki mantan Presiden Yaman Abdullah Saleh, Ahmed Ali Saleh, dipecat dari jabatan duta besar Yaman untuk Uni Emirat Arab (UEA).

Pemecatan itu dilakukan atas permintaan UEA, negara yang bergabung dalam anggota koalisi penumpasan Houthi.

Asisten Presiden Yaman Abed Rabbo Mansour Hadi membenarkan bahwa Presiden Hadi memberhentikan Saleh.

Kelompok pemberontak Houthi didukung pasukan yang loyal pada mantan Presiden Abdullah Saleh.

(AFP/Wey/X-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya