Mengenang Luka Perang Dunia Pertama

Denny Parsaulian Sinaga
11/11/2018 23:50
Mengenang Luka Perang Dunia Pertama
(AFP/CHRIS JACKSON)

DAHULU bermusuhan dalam Perang Dunia I, kini dua pemimpin negara kuat Eropa berdiri berdampingan untuk mengenang luka-luka peperangan tersebut. Kemarin, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel menandatangani buku peringatan tanda rekonsiliasi pada acara mengenang 100 tahun akhir Perang Dunia I.

Mereka menandatangani buku peringatan itu di atas kereta api yang identik dengan tempat penandatanganan kesepakatan Perjanjian Gencatan Senjata 1918. Semula, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan hadir dalam acara itu.

Namun, Trump justru menimbulkan kontroversi dengan membatalkan perjalanan ke pemakaman tentara AS pada Sabtu (10/11) dengan alasan cuaca buruk.

Sebagai informasi, sekitar 70 negara saat itu terlibat dalam konflik Perang Dunia I. Negara-negara itu mewakili enam kerajaan dan kekuatan kolonial, yaitu Austria-Hongaria, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Kekaisaran Ottoman.

Sekitar 10 juta tentara diperkirakan tewas dalam berbagai pertempuran dan lebih dari dua kali lipat dari jumlah tersebut terluka.

Selain dari militer, warga sipil turut menjadi korban. Jumlah penduduk sipil yang tewas diprediksi antara lima hingga 10 juta.

Menurut catatan sejarah, sejauh ini Merkel merupakan pemimpin Jerman pertama sejak Perang Dunia II yang bersedia mengunjungi hutan dekat Kota Compiegne di Prancis Utara tempat perjanjian gencatan senjata ditandatangani.

Dia dan Macron meluncurkan sebuah plakat untuk menandai rekonsiliasi Prancis-Jerman. Di acara itu, mereka juga meletakkan karangan bunga dan meneken buku peringatan di replika kereta api.

Sebagai informasi, saat Perang Dunia II, gerbong yang asli digunakan pemimpin Nazi Adolf Hitler untuk menerima laporan penguasaan Prancis oleh tentara Jerman pada Juni 1940.

Kemarin sore, Macron dan Merkel kembali hadir bersama dalam konferensi Forum Perdamaian Paris. Sekitar 70 pemimpin dunia turut berkumpul di Paris untuk menghadiri acara tersebut termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau, dan PM Israel Benyamin Netanyahu.

Forum perdamaian tersebut diprakarsai Macron yang dimaksudkan untuk menyoroti pentingnya lembaga-lembaga internasional dalam membantu menyelesaikan konflik, mencegah perang, dan menyebarkan kemakmuran.

 

Berkumpul di Paris

Para pemimpin dunia, kemarin, berkumpul di Paris, Prancis, menghadiri acara peringatan yang menandai 100 tahun berakhirnya Perang Dunia I. Acara tersebut digelar di tengah meningkatnya paham nasionalisme di berbagai negara dan ketegangan diplomatik.

Seremoni peringatan dipusatkan di Makam Prajurit tidak Dikenal di Arc de Triomphe. Pada acara itu, para pemimpin dunia mengingatkan bahaya nasionalisme modern. "Hari ini bukan hanya tentang mengingat, melainkan juga harus tentang ajakan bertindak," kata Merkel.

Sementara itu, upacara peringatan berakhirnya Perang Dunia I juga digelar di Selandia Baru dan Australia. Kerumunan besar warga di kedua negara memberikan penghormatan kepada lebih dari 80 ribu prajurit pria dan perempuan yang menyerahkan hidup mereka dalam perang besar tersebut.

"Untuk hari esok, kami, mereka memberikan hari ini," kata Perdana Menteri Australia Scott Morrison di hadapan orang-orang yang berkumpul pada upacara nasional Hari Peringatan di Canberra.

Di lnggris, acara serupa juga digelar. Lonceng gereja dibunyikan di seluruh negeri tepat pada pukul 11.00 pagi. (BBC/AFP/I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya