Kelompok Bersenjata Culik 79 Siswa Asrama

Tesa Oktiana Surbakti
06/11/2018 13:58
Kelompok Bersenjata Culik 79 Siswa Asrama
(Ilustrasi)

SEKELOMPOK pria bersenjata menculik 79 anak-anak dari sekolah asrama di wilayah barat Kamerun. Aksi penculikan tersebut terjadi malam hari, saat sebagian besar penghuni asrama tengah terlelap.

Juru bicara pemerintah Nothwest, Louis Marie Begne, mengatakan penjaga Sekolah Menengah Presbyterian di Bamenda sempat kesulitan menghalau sekelompok orang yang berhasil menerobos asrama. Mereka juga membawa paksa sejumlah pelajar yang sedang tidur. Sedikitnya 79 anak laki-laki dan perempuan dibawa pergi dengan bus sekolah.

Supir bus sempat berdalih terjadi kerusakan mesin, sehingga bus tidak bisa beroperasi. Namun, kelompok bersenjata tersebut tidak kehabisan akal. Mereka tetap membawa kabur anak-anak dengan berjalan kaki.

Begne mengatakan pihaknya segera mengadakan rapat darurat pada Senin pagi waktu setempat bersama dengan tentara militer dan polisi Kamerun untuk mencari keberadaan puluhan anak. Batalion Intervensi Cepat (BIR) dan helikopter juga dilibatkan dalam misi pencarian. Kemungkinan besar anak-anak dibawa pergi dalam rombongan terpisah.

Selain anak-anak, lanjut Begne, kepala sekolah ikut diculik. Namun tak lama dilepaskan, serta diperintahkan agar tidak kembali ke sekolah. Begne enggan menyebut identitas terduga kelompok penculik, dan tidak menyampingkan campur tangan gerakan separatis. Terlebih pejuang separatis Anglophone menyerukan kemerdekaan kepada pemerintah Kamerun. Mereka juga dituding menjadi dalang penculikan sejumlah mahasiswa di wilayah utara dan barat Kameran.

Amnesty Internasional mencatat tujuh orang siswa dan seorang kepala sekolah diculik kelompok separatis bersenjata di Kota Bafut pada September lalu. Para sandera disiksa dan mendapat luka serius, sebelum akhirnya dibebaskan. Masih pada bulan yang sama, pejuang separatis bahkan melakukan serangan terhadap sekelompok tentara di Kota Buea.

Tindak kekerasan kerap terjadi di wilayah Anglophone, Kamerun, yang penduduknya mencapai 20% dari total populasi. Penduduk di provinsi tersebut mengeluhkan sikap pemerintah yang cenderung memarginalkan mereka. Aksi protes perlahan berubah menjadi serangan kekerasan, menyusul sikap kelompok separatis bersenjata yang menyerukan kemerdekaan. Gerakan separatis yang kian meluas, berdampak buruk terhadap situasi keamanan di negara Afrika bagian barat sepanjang tahun ini.

Presiden Kamerun Paul Biya yang berkuasa selama 36 tahun, disinyalir memanfaatkan kekuatan militer untuk melancarkan serangan kepada kelompok separatis bersenjata dan membunuh pembicara berbahasa Inggris. Di lain sisi, kelompok separatis diduga kuat telah menghabisi sejumlah pasukan keamanan negara. Pemimpin berusia 85 tahun itu mengutuk tidakan kekerasan siapapun pelakunya. (CNN/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya