SEJUMLAH catatan medis yang diÂtemukan di kediaman Andreas Lubitz, 27, kopilot pesawat Germanwings yang jatuh di Pegunungan Alpen, Prancis, Selasa (24/3), menyingÂkap bahwa dia memiliki riwayat penyakit yang dirahasiakan dari perusahaan tempat dia bekerja.
Kemarin, media Jerman Die Welt menemukan obat antidepresi di apartemen Lubitz yang menunjukkan bahwa Lubitz menderita penyakit psikosomatis parah.
Beberapa ahli kejiwaan berpendapat akan sulit menyingkap motivasi sesungguhnya saat Lubitz dengan sengaja menabrakkan pesawat sehingga menewaskan seluruh 150 penumpang beserta awak.
"Kami tidak punya petunjuk tentang apa yang ada di benaknya. Bahkan jika kita punya semua catatan medis dan telah melakukan wawancara dengan dia (Lubitz), masih sulit untuk menjelaskan (motivasi) tinÂdakÂan seperti itu," ungkap Dr Simon Wessely dari Institute of Psychiatry di King College London.
Dr Raj Persaud, staf Royal ColleÂge of Psychiatrists, Inggris, berpenÂdapat, "Pelaku biasanya merasa sudah mengalami hal yang mengerikan dan tindakan itu (pembunuhan massal) dijadikan balasannya."
Menurut ahli lainnya, Dr Paul Keedwell, yakni psikiater di UniverÂsitas Cardiff, Inggris, tindakan keÂkerasan hampir mustahil dicegah jika tidak ada tanda-tanda peringatan yang jelas.
"Orang bisa sangat terampil menyembunyikan masalah karena tidak diinginkan secara sosial," kata Keedwell.
Sementara itu, Dr Roland CoutanÂceau, ketua Liga Kesehatan Mental Prancis, mengungkap bahwa tinÂdakÂan pembunuhan massal itu berÂtujuan menyebabkan kerusakan maksimal demi menarik perhatian. "Supaya dia diingat dunia sekalipun sebagai pahlawan dalam konteks negatif," lanjut Coutanceau.
Analisis Coutanceau sejauh ini klop dengan pernyataan mantan kekasih Lubitz, pramugari Maria W, 26.
Dalam wawancara dengan meÂdia Jerman, Maria mengungkap ucapÂan Lubitz beberapa bulan seÂbeÂlum insiden. "Suatu hari semua orang akan mengetahui nama saya," kata Maria menirukan ucapan LuÂbitz. (AP/Daily Mail/Hym/I-1)