Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) diketahui segera mengerahkan 800 pasukan ke wilayah perbatasan dengan Meksiko. Sinyal tersebut diutarakan dua pejabat pemerintahan AS yang enggan menyebutkan identitasnya kepada AFP.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS akan diturunkan untuk membantu penanganan darurat nasional, sekaligus menghalau gelombang imigran yang bergerak dari arah Meksiko dengan menggunakan karavan. Pentagon akan menurunkan lebih dari 2.000 pasukan Garda Nasional untuk beroperasi di wilayah perbatasan. Ribuan pasukan akan diambil dari sejumlah pangkalan militer seluruh AS.
Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, diperkirakan menandatangani perintah khusus penugasan, sekitar Kamis atau Jumat waktu setempat. Pasukan yang mencakup kalangan dokter dan insinyur, akan didukung pasokan logistik, seperti tenda, kendaraan, dan berbagai peralatan. Pejabat Pentagon mengungkapkan kehadiran pasukan akan memenuhi elemen dari daftar permintaan bantuan militer yang dikirim Departemen Keamanan Dalam Negeri kepada Pentagon.
Dalam akun Twitter pribadinya, Trump menuliskan aturan hukum buatan kubu Partai Demokrat, membuatnya sulit menghentikan arus imigran di wilayah perbatasan. 'Saya harus mengerahkan militer untuk menangani situasi darurat nasional. Mereka harus dihentikan!' bunyi cicitan Trump.
Juru Bicara Pentagon, Kapten Angkatan Laut Bill Speaks, menjelaskan Pentagon tengah bekerja sama dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri, guna menentukan dukungan spesifik yang dibutuhkan pihak berwenang di area perbatasan.
Diminta putar balik
Banyak imigran melarikan diri dari Honduras untuk keluar dari jerat kemiskinan dan kekacauan imbas tindakan brutal gerombolan jalanan. 'Kalian yang berada di dalam karavan, tolong putar balik. Karena kami tidak akan membiarkan orang luar masuk ke AS secara ilegal,' tukas Trump dalam cicitannya Kamis (25/10) sore.
Trump mengisyaratkan segera mengirimkan lebih banyak pasukan pekan lalu, kecuali Meksiko berupaya menghentikan derasnya arus imigran dari Guatemala, Honduras, dan El Salvador. Selain menghadirkan militer AS, Trump mengancam akan menutup pintu perbatasan selatan.
Menteri Luar Negeri Guatemala, Sandra Jovel, menepis kabar penghentian bantuan dari AS. Menurutnya, Trump memunculkan pernyataan itu sebagai konsumsi media. "Saya pikir pernyataan Trump hanya menjadi pertunjukan bagi media. Hubungan kedua negara masih baik," ujar Jovel.
Terhitung sejak Kamis pagi, deretan karavan bergerak dari Kota Mapastepec di negara bagian Chiapas, Meksiko, menuju perhentian berikutnya dalam perjalanan panjang ke utara. Setelah empat hari menyeberang ke wilayah Meksiko, gelombang imigran harus menempuh sekitar 3.000 kilometer (km) untuk mendekati perbatasan AS.
"Situasi saat ini sungguh sulit bagi kami. Namun, untuk kembali ke Honduras, itu malah lebih berbahaya lagi. Mereka (gerombolan jalanan) tega membunuh siapa saja untuk kepentingan apa pun," keluh Josene Anibal Mejia, salah satu penyintas yang pergi bersama putrinya. (AFP/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved