Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG jurnalis asal Jepang yang disandera militan Suriah selama tiga tahun, akhirnya dibebaskan. Pemerintah Jepang membenarkan kabar kebebasan Jumpei Yasuda yang dikenal sebagai jurnalis lepas spesialis perang tersebut.
Dalam sebuah wawancara singkat dengan media, Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono, menjelaskan staf kedutaan di Turki sudah mengonfirmasi identitas Yasuda. Kondisi kesehatan sang jurnalis, lanjut dia, terbilang baik. Pemerintah Jepang akan membantu proses kepulangan Yusada setelah pemeriksaan medis rampung.
Pada Selasa malam waktu setempat, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, mengungkapkan pemerintah Qatar memberikan kabar bahagia tersebut. Orang yang disinyalir sebagai Yasuda diketahui berhasil dibawa ke fasilitas imigrasi di Antakya, Turki.
Semenjak dinyatakan hilang pada Juni 2015, beberapa video seorang pria yang diyakini Yasuda, muncul dalam situs pencarian maupun jejaring sosial. Sekitar Maret 2016, dalam sebuah video yang diunggah, menunjukkan Yasuda sebagai sandera.
Baca juga: Jurnalis Jepang Disandera Al-Nusra
Media Jepang lantas mengonfirmasi identitas Yasuda melalui keluarganya. Apalagi Yasuda dilaporkan telah ditangkap organisasi teroris Front al-Nusra, pasca memasuki wilayah Suriah. Kendati demikian, video yang beredar tidak memberikan informasi pasti mengenai identitas penculik. Dalam video, sosok Yasuda terlihat berjenggot dan mengenakan baju hangat dan syal berwarna hitam putih.
Video tersebut berisi pesan Yasuda yang berbunyi, "Hai saya Jumpei Yasuda. Hari ini, 16 Maret, adalah ulang tahunku. Mereka (penculik) membolehkanku bicara apa saja. Dan saya ingin mengirimkan pesan melalui video ini kepada siapapun. Saya sungguh mencintai istri, ayah, ibu dan saudaraku. Saya selalu memikirkan kalian memeluk kalian. Rasanya saya ingin berbicara langsung, tapi sulit untuk dilakukan. Jadi saya ingin bilang tolong jaga diri kalian."
Pria berusia 42 tahun itu juga mengisahkan kehidupannya berjalan baik. Khususnya sejak berusia 8 tahun. Kepada pemerintah Jepang, Yasuda juga memberikan pesan berbunyi, "Saat anda duduk di ruangan gelap, di manapun itu, kemudian menderita sakit dan tidak ada seorangpun di situ. Lalu tidak ada yang menjawab, tidak ada yang menanggapi. Anda seakan tidak terlihat, karena tidak ada yang peduli denganmu."
Pada Mei 2016, sebuah foto yang disinyalir sosok Yasuda, tersebar luar di jejaring sosial. Pesan dari foto tersebut cukup menyayat hati. "Tolong bantu saya, ini adalah kesempatan terakhir," demikian bunyi pesannya. Menilik akun twitter pribadi Yasuda terakhir diperbarui pada 21 Juni 2015. Bunyi cicitan terakhirnya berkaitan dengan tantangan selama meliput berita. Sehingga, tidak ada waktu untuk membuat bahan tertawaan. Dia pun menceritakan dirinya sulit memperbarui unggahan tulisah, baik di blog maupun jejaring sosial, secara terus menerus.
Berdasarkan situs pribadinya, Yasudah diketahui menekuni profesi jurnalis sejak 1997. Dia bekerja pertama kali di sebuah harian dan memilih menjadi jurnalis lepas pada 2003, tepatnya setelah melakukan perjalanan liputan di Afghanistan. Yasuda sempat beberapa kali ditahan selama bertugas di Irak.
Setelah ditahan militan Baghdad pada April 2004, Yasuda dikritik publik Jepang karena berani memasuki zona konflik. Namun pemerintah Jepang berupaya melakukan negosiasi agar Yasuda dapat dibebaskan. Pun setelah berhasil menghirup udara segar, Yasuda tak juga jera. Dia kembali melakukan peliputan di Irak dan Suriah. Hal itu terlihat dalam laporan yang diunggah dalam situs pribadinya.(CNN/OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved