Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AFGHANISTAN kini kembali menjadi ladang pembantaian bagi tentara NATO. Pada Senin (22/10), seorang tentara NATO tewas dan dua lainnya terluka dalam serangan yang diklaim kelompok Taliban.
Beberapa hari sebelumnya, setelah seorang jenderal asal Amerika Serikat (AS) terluka dalam aksi penembakan saat digelar pertemuan keamanan tingkat tinggi.
Misi Resolute Support NATO tidak segera merilis kewarganegaraan tiga tentara yang menjadi target dalam serangan di Provinsi Herat tersebut. Namun, dipastikan ketiganya bukan warga AS.
"Dari laporan awal mengindikasikan serangan itu dilakukan seorang anggota pasukan keamanan Afghanistan," kata Resolute Support dalam sebuah pernyataan.
Serangan terjadi empat hari setelah seorang pria bersenjata yang mengenakan seragam pasukan keamanan Afghanistan melepaskan tembakan beruntun ke arah para pemimpin keamanan, termasuk Jenderal Scott Miller (komandan AS dan NATO di Afghanistan) di Kota Kandahar, Afghanistan Selatan.
Miller tidak terluka dalam penembakan di dalam kompleks gubernur Provinsi Kandahar yang dijaga ketat itu, tetapi insiden itu menewaskan tiga orang, termasuk kepala polisi dan orang kuat anti-Taliban, Jenderal Abdul Raziq.
Resolute Support mengonfirmasi, pada penembakan yang diklaim kelompok Taliban itu, Brigadir Jenderal AS Jeffrey Smiley termasuk di antara 13 orang yang terluka.
"Smiley menderita luka tembak yang tidak mengancam nyawa dan sedang berada di Jerman untuk menjalani perawatan lebih lanjut," kata pernyataan itu.
Sejatinya, serangan tersebut menargetkan Miller dan Raziq. Hal itu diungkapkan Taliban lewat pernyataan mereka.
Namun, para pejabat AS dan Resolute Support menepis klaim itu dan mengatakan bahwa insiden tersebut tidak menargetkan para jenderal AS.
"Sejak insiden itu, Tadeen Khan, saudara laki-laki Raziq dan anggota pasukan keamanan Afghanistan, telah ditunjuk sebagai kepala kepolisian provinsi," kata Deputi Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Nasrat Rahimi kepada AFP.
Di lain hal, berkembang rumor di media sosial Afghanistan yang menyebutkan Misi Resolute Support melakukan serangan terhadap Raziq.
Ketua Eksekutif Abdullah Abdullah secara tegas membantahnya. "Desas-desus semacam itu membenarkan kekejaman musuh," kata Abdullah yang merupakan pejabat setara dengan perdana menteri di sela pertemuan tingkat menteri reguler yang disiarkan televisi Afghanistan.
Bagi militer AS, insiden seperti itu merupakan kejadian yang tidak biasa karena para jenderal 'Negeri Paman Sam' tersebut jarang menghadapi serangan dan jarang terluka.
Secara umum, bagi Afghanistan, serangan seperti itu dipandang sebagai kudeta besar dan merusak pembicaraan perdamaian di wilayah selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved