Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMATIAN jurnalis Jamal Khashoggi yang diyakini akibat dibunuh secara sadis di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, membuat negara kaya minyak itu kian tersudut. Langkah pengucilan pun dimulai.
Dunia marah atas meninggalnya Khashoggi yang selama ini dikenal kritis terhadap kepemimpinan Saudi, terutama putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Pengakuan yang akhirnya datang dari Kerajaan Arab Saudi bahwa korban memang tewas tak mampu meredakan kemarahan. Apalagi, mereka mengklaim kontributor Washington Post yang terakhir kali terlihat memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu itu meninggal akibat perkelahian dan jasadnya belum diketahui.
Kemarahan dunia langsung ditunjukkan dengan pemboikotan kegiatan di
Saudi. Konferensi investasi atau Future Investment Initiative (FII) bertajuk Davos in the Desert yang akan digelar di Saudi, pekan depan, misalnya, kehilangan minat. Panitia penyelenggara pun terpaksa mengurangi daftar pembicara.
Puluhan eksekutif utama, mulai dari bankir JP Morgan, produsen otomotif Ford, hingga penyedia layanan transportasi daring Uber, membatalkan kehadiran mereka. Demikian pula, media raksasa seperti Bloomberg, CNN, dan Financial Times memilih mundur.
Pemerintah Australia bahkan menarik perwakilan mereka dengan alasan konferensi itu tidak layak dihadiri pascakasus Khashoggi. Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde juga mengonfirmasikan pembatalan kehadirannya.
Konferensi tersebut bertujuan membuka prospek investasi di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi yang gencar mendiversifikasi sektor usaha. Tujuannya, agar perekonomian mereka tidak bergantung pada minyak dan gas.
Pada FII tahun lalu, MBS dinilai sebagai sosok visioner karena berhasil memukau sejumlah investor. Anak Raja Salman itu menunjukkan robot pintar sekaligus memaparkan pengembangan kota masa depan bernama NEOM.
Namun, Eurasia Group menyebut MBS kini tengah menghadapi krisis kepercayaan akut. "Memang pembicaraan dalam konferensi mengusung reformasi, tetapi aliran investasi asing langsung ke Saudi diperkirakan tetap rendah. Skandal kematian Khashoggi memicu ketidakpastian bagi investor," tutur perusahaan riset Capital Economics.
Semakin keras
Negara-negara Barat meragukan kredibilitas penjelasan Saudi terkait dengan kematian Khashoggi. Seruan untuk penyelidikan yang komprehensif dan berimbang pun semakin keras.
Inggris menyangsikan gambaran peristiwa yang dipaparkan Saudi. "Kami pikir penjelasan Saudi sulit dipercaya. Karena itu, kami mendukung penyelidikan Turki dalam kasus ini. Pemerintah Inggris ingin mengetahui siapa orang yang bertanggung jawab atas kematian Khashoggi," ujar Sekretaris Brexit, Dominic Raab.
Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan perkara tersebut. "Saya perhatikan Saudi tampaknya mengubah taktik. Mereka mencoba mengakui apa yang terjadi dan berusaha bertanggung jawab. Namun, tetap saja, itu tidak mengurangi pentingnya penelusuran lebih lanjut."
Dalam pernyataan resmi bersama, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Menlu Heiko Maas menegaskan informasi yang dikeluarkan Saudi jauh dari transparansi. Sebagai konsekuensi, Jerman akan menunda penjualan senjata ke Saudi hingga penyelidikan atas kematian Khashoggi lengkap.
Dari Jakarta, juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kasus Khashoggi. Dia berharap, investigasi dilakukan secara menyeluruh. (AFP/The Guardian/X-8)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved