Petinggi Oposisi Malaysia Diadili soal Korupsi

Denny Parsaulian Sinaga
20/10/2018 08:00
Petinggi Oposisi Malaysia Diadili soal Korupsi
(AFP)

PEMIMPIN oposisi Malaysia, kemarin, dikenai 45 dakwaan berlapis dalam kasus korupsi yang merugikan keuangan negara senilai US$26 juta. Hal itu menjadi pukulan baru lanjutan bagi koalisi yang kehilangan kekuasaan dalam pemilihan umum (pemilu) penting pada Mei 2018 lalu.

Ahmad Zahid Hamidi yang berstatus sebagai mantan wakil perdana menteri dan sekutu mantan pemimpin yang sudah didakwa terlebih dahulu atas skandal keuangan di perusahaan pelat merah 1MDB, Najib Razak, dituduh melakukan sejumlah kejahatan, termasuk menerima suap untuk memuluskan kontrak pemerintah.

Selain itu, dia juga dituding melakukan tindak pidana pencucian uang. Namun, pria berusia 65 tahun itu mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan penyidik. Meski membantah, dia tetap akan diadili.

"Saya siap menghadapi semua tuduhan yang dilemparkan kepada saya. Ini adalah ujian dari Allah," kata Ahmad Zahid kepada wartawan. Sementara itu, kerumunan para pendukung Ahmad terlihat bergerombol di luar pengadil-an di Kuala Lumpur tempat dia diadili.

Mereka melambai-lambaikan spanduk yang bertuliskan, 'Kami Menolak Perlakuan Kejam terhadap Pemimpin Kami'. Selain masyarakat yang memberikan dukungan, Najib juga turut menghadiri sidang untuk memberikan bantuan moral.

Sebagai informasi, politikus veteran itu ialah kepala Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), yaitu koalisi partai yang memerintah Malaysia sejak kemerdekaan negara itu pada 1957 hingga kekalahan mengejutkan dalam pemilihan pada Mei lalu.

Sejak itu, UMNO perlahan telah ditinggalkan banyak mitra koalisi mereka. Pasalnya, partai itu kini menjadi identik dengan tindak pidana korupsi, politik rasial yang memecah belah di negara multi-etnik, dan elite penguasa busuk.

Seperti diketahui, selain Ahmad, Najib juga telah ditangkap dan didakwa karena tuduhan bahwa dia mengetahui dan mengawasi perampasan dana negara di 1MDB. Kini, kasus 1MDB menjadi sebuah skandal yang menjadi penyebab utama kekalahan pemilu UMNO pada Mei lalu.

Pencucian uang

Dalam berkas dakwaan, Ahmad menghadapi 27 tuduhan pencucian uang, delapan tuduhan menerima suap, dan 10 tuduhan pelanggaran kepercayaan.

Tuduhan utama antara lain menyalahgunakan uang milik yayasan amal yang dipimpinnya. Dia dituding menerima pembayaran kembali sebagai imbalan atas pemberian kontrak pemerintah dan mencuci uang dengan membeli sejumlah properti.

Jumlah total uang yang dikaitkan dalam dugaan korupsi yang melibatkan Ahmad ialah sekitar 111 juta ringgit ($26,6 juta). Meski didakwa dengan tuduhan berlapis, dia tidak ditahan karena adanya uang jaminan sebesar dua juta ringgit.

Selanjutnya, hakim menetapkan sidang berikutnya akan digelar pada 14 Desember. Di sisi lain, UMNO berkukuh bahwa kasus terhadap pemimpin mereka bermotif politik. "Saudaraku tidak bersalah," kata Mohamad Lokman Hamidi kepada wartawan.

Politikus yang juga menjabat menteri dalam negeri di era pemerintahan Najib itu, dikenal dekat dengan sang mantan perdana menteri di saat sejumlah tokoh senior lainnya meninggalkan Najib karena skandal korupsi 1MDB.

Di lain hal, otoritas Amerika Serikat mengatakan lebih dari US$4,5 miliar telah disalahgunakan dari dana tersebut dengan US$700 juta di antaranya dialihkan ke rekening bank pribadi milik Najib. Namun, mantan pemimpin Malaysia itu menyangkal melakukan kesalahan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya