Setengah Warga Dunia Berpenghasilan di Bawah US$5,50 Per Hari

Tesa Oktiana Surbakti
18/10/2018 08:30
Setengah Warga Dunia Berpenghasilan di Bawah US$5,50 Per Hari
(AFP/ ORLANDO ESTRADA)

MESKIPUN sejumlah pemimpin gencar menekan jumlah penduduk miskin di negara mereka masing-masing, hampir setengah dari populasi dunia memiliki penghasilan kurang dari US$5,50 per hari atau sekitar Rp77 ribu (kurs 14.000 per dolar AS).

Peningkatan populasi warga miskin itu teramat kontras di tengah meningkatnya kesejahteraan hidup warga di negara yang tergolong kaya raya.

Dalam laporan tahunan yang terbagi dalam dua periode, Bank Dunia memperluas sudut pandang mengenai kemiskinan, terutama warga masyarakat yang hidup di negara-negara miskin atau belum berkembang.

Kendati demikian, kelompok masyarakat yang masuk ke kategori miskin ekstrem mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam hal ini, indikator penduduk dengan kemiskinan ekstrem ialah mereka yang memiliki penghasilan kurang dari US$1,90 per hari (sekitar Rp26.000).

Selain memperluas parameter kemiskinan, laporan Bank Dunia itu juga menyoroti persoalan masih tingginya jumlah penduduk miskin di penjuru dunia. Pun, laju pertumbuhan ekonomi terbilang tidak merata, baik antarnegara maupun antarkawasan.

Kendati pertumbuhan ekonomi global mengalami pelambatan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah populasi yang berada di garis kemiskinan turun lebih dari 68 juta orang pada periode 2013-2015.

Walaupun terdapat perbaikan, Bank Dunia tetap mengingatkan potensi kenaikan jumlah penduduk miskin di masa mendatang. Pasalnya, tren kebijakan berbagai negara kurang mendukung target Bank Dunia dalam menekan jumlah penduduk miskin kurang dari 3% dari populasi dunia pada 2030.

"Temuan yang sangat memprihatinkan ialah kasus kemiskinan ekstrem masih mengakar di sejumlah negara. Kami melihat upaya mengurangi laju kemiskinan terus melambat," bunyi laporan itu.

Dengan mengacu pada ambang batas penghasilan US$5,50 per hari, tingkat kemiskinan global turun dari 67% menjadi 46% antara 1990 dan 2015. Pada 2015, angka kemiskinan ekstrem sempat turun 10%.

Bank Dunia juga menggarisbawahi penurunan tingkat kemiskinan di Tiongkok dan sejumlah negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik sebesar 35%. Persoalan kemiskinan juga sulit dilepaskan dari kawasan Sub-Sahara Afrika, yakni 84,5% dari populasi hidup dengan penghasilan di bawah US$5,50 per hari.

Pada dua dekade lalu, sekitar 60% dari populasi dunia hidup di negara berpenghasilan rendah. Bank Dunia mengingatkan banyak penduduk miskin tersebar di berbagai negara belum merasakan dampak pertumbuhan ekonomi yang merata.

Konflik dan bencana

Jumlah penduduk berusia lanjut di beberapa negara di Afrika memikul beban berat krisis kemanusiaan yang dipicu oleh konflik dan bencana berkaitan dengan perubahan iklim.

Menurut studi berjudul Older people in displacement: falling through the cracks of emergency responses, krisis kemanusiaan yang merebak di tanduk Afrika berkaitan dengan perang dan kemarau telah merenggut lebih banyak korban warga senior.

"Orang tua dengan tubuh cacat melaporkan mereka menerima dukungan keluarga selama pengungsian. Sementara itu, sumber kehidupan langka dan anggota keluarga semakin lelah mengurus mereka. Hilangnya tenaga, kedaulatan, dan penghormatan berdampak berbahaya bagi kesehatan psikologis orang tua," jelas studi tersebut.

Studi yang dilakukan di Kenya, Sudan, Etiopia, dan Uganda itu menyoroti kerentanan orang berusia lanjut dalam peristiwa bencana. Pasalnya, reaksi dari pelaku kemanusiaan dan masyarakat cenderung seadanya bahkan serampangan. (Tes/AFP/Ant/X-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya