Pilu Mengenang Yaman yang Terkoyak

(Tesa Oktiana Surbakti/I-2)
13/10/2018 08:10
Pilu Mengenang Yaman yang Terkoyak
(AFP/ZACHARIAS ABUBEKER)

Ibu Kota Ethiopia, Addis Ababa, bertambah hangat dan cerah saat awan gelap dan hujan badai pada musim hujan mulai reda. Aroma bunga mentega atau bunga jepun, yang menyertai kedatangan Tahun Baru Ethiopia memenuhi udara sekitar.

Namun, sekitar 1.125 kilometer dari Ethiopia, di negara tua Yaman, tidak ada aroma bunga dan hampa harapan. Yang ada ialah awan hitam ketakutan saat kematian dan kerusakan memaksa ribuan orang berbondong-bondong menyelamatkan diri ke Ethiopia, tempat mereka sekarang menjadi pengungsi.

Yaman masih porak-poranda akibat kerusuhan sejak 2014, ketika gerilyawan Syiah Al-Houthi menguasai sebagian wilayah negeri tersebut, termasuk Ibu Kotanya, Sana'a.

Konflik berdarah meningkat pada 2015, ketika Arab Saudi dan sekutu Arabnya melancarkan serangan udara secara besar-besaran di Yaman dengan tujuan memutar-balikkan keadaan yang saat itu dikuasai milisi Al-Houthi.

Peperangan pun kian berkecamuk dan memorak-porandakan prasarana dasar Yaman. PBB menggambarkan situasi di negara Arab itu sebagai 'salah satu bencana kemanusiaan terburuk pada zaman modern'.

Menurut Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), pada akhir Juni 2018, terdapat sebanyak 22.443 pengungsi di Addis Ababa, kebanyakan dari Eritrea, Yaman, Somalia, dan Sudan Selatan, serta sebagian kecil dari negara lain.

Dari 22.443 pengunsi, sebanyak 17.720 atau 79% ialah orang Eritrea dan 1.900 warga negara Yaman.

Jamal Al-Hada, 58, adalah pelukis Yaman kelahiran Ethiopia dan memiliki hubungan budaya dengan negara penampungnya karena ia masih memiliki darah Ethiopia.

"Di sini di Addis Ababa, sekarang merupakan bulan pertama dalam kalender Ethiopia. Tapi, negara saya yang tercinta, Yaman, telah terjerumus ke dalam kegelapan dan perang tanpa akhir yang menghancurkan," kata Jamal Al-Hada, sebagaimana dikutip kantor berita Anadolu yang dipantau Kantor Berita Antara, kemarin.

Al-Hada mengatakan ia takut untuk menyalakan televisi dan menyaksikan berita. "Sebab saya takut akan mendengar dan menyaksikan peristiwa yang mengejutkan, seperti pengeboman bus sekolah pada Agustus lalu," tambahnya.

Pada 9 Agustus 2018, serangan udara pihak koalisi pimpinan Arab Saudi mengenai sebuah bus yang membawa anak-anak di Provinsi Saad, bagian barat-laut Yaman. Tak kurang dari 50 orang, kebanyakan anak kecil, tewas dan puluhan orang lagi cedera.

"Ketika beban menyakitkan mengenai keluarga dan negara saya, saya hanya bisa mengambil kuas dan kanvas untuk mengungkapkan perasaan saya di sana," tambah Al-Hada yang berprofesi sebagai pelukis.

Dia mengatakan, kini dukungan ekonomi dari para kerabat di Yaman tidak pernah datang lagi. Pasalnya, ekonomi negara itu terpuruk dan 22 juta warga Yaman memerlukan bantuan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya