Neraca Perdagangan Tiongkok terhadap AS Surplus

(AFP/Tes/I-2)
13/10/2018 08:00
Neraca Perdagangan Tiongkok terhadap AS Surplus
(Nicolas ASFOURI / AFP)

NERACA perdagangan Tiongkok terhadap Amerika Serikat (AS) pada periode September 2018 mengalami surplus sebesar US$34,1 miliar. Padahal, konflik dagang kedua negara semakin diperkeruh oleh perang tarif komoditas impor.

Seperti diketahui, hubungan perdagangan dua negara ekonomi raksasa itu memburuk sepanjang tahun ini. Presiden AS Donald Trump bahkan bersumpah tetap menggencarkan serangan jika Tiongkok tak kunjung luluh.

Pada September 2018, AS kembali memberlakukan putaran tarif baru pada komoditas impor Tiongkok senilai US$200 miliar. Dalam merespons hal itu, Tiongkok tidak tinggal diam dengan meluncurkan tarif balasan atas komoditas AS sebesar US$60 miliar.

Administrasi Umum Bea dan Cukai Tiongkok mencatat kinerja ekspor Tiongkok ke AS mengalami kenaikan menjadi US$46,7 miliar. Sementara itu, arus impor turun sebesar US$12,6 miliar.

"Friksi perdagangan AS-Tiongkok sebenarnya menimbulkan masalah, sekaligus mengguncang kinerja perdagangan luar negeri secara keseluruhan," papar juru bicara Administrasi Umum Bea dan Cukai Li Kuiwen.

Kendati demikian, laju peningkatan ekspor yang lebih cepat daripada impor mendorong terjadinya surplus dalam neraca perdagangan Tiongkok terhadap AS sebesar US$31,7 miliar per September 2018. Kinerja ekspor melonjak hingga 14,5%, di luar proyeksi sejumlah analis.

Dengan berangkat data sebelumnya, neraca perdagangan Tiongkok periode Oktober 2018 diyakini tetap kuat. Namun, para analis memperkirakan dampak perang dagang masih membayangi kinerja perdagangan dalam beberapa bulan mendatang.

"Gambaran besarnya ialah ekspor Tiongkok sejauh ini bertahan dengan baik. Utamanya dalam menghadapi ketegangan konflik dagang dengan AS. Kemungkinan kinerja perdagangan juga dipengaruhi peningkatan daya saing dan pelemahan nilai tukar renminbi (yuan)," tutur ekonom dari Capital Economics, Julian Evans-Pritchard.

Dalam enam bulan terakhir, nilai tukar yuan terhadap dolar AS terdepresiasi sekitar 9%. Hal itu memi tigasi naiknya harga komoditas Tiongkok yang terimbas pemberlakuan tarif dari AS.

Saat ini, kurs dolar AS terhadap mata uang global semakin perkasa, seiring kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve) yang kembali menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR).

Julian menggarisbawahi surplus neraca perdagangan sulit dipertahankan, terutama di tengah pelemahan ekonomi global yang kini sedang terjadi. Ditambah lagi, sikap pemerintah AS yang mengancam akan melanjutkan perang tarif.

Dalam artikel yang diterbitkan Financial Times, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengingatkan agar Tiongkok tidak melakukan devaluasi mata uang secara kompetitif. Namun, Tiongkok dengan tegas membantah sengaja memanipulasi yuan untuk mengantisipasi perang tarif.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya