Audio Indikasikan Khashoggi Dibunuh

Tesa Oktiana Surbakti tesa@mediaindonesia.com
13/10/2018 07:55
Audio Indikasikan Khashoggi Dibunuh
( (Photo by OZAN KOSE / AFP))

PEMERINTAH Turki mengklaim memiliki rekaman audio dan video yang mengindikasikan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, menjadi korban pembunuhan. Sejak memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, Khashoggi dinyatakan menghilang.

Petunjuk yang mengurai misteri hilangnya Khashoggi diungkapkan beberapa pejabat Turki dan Amerika Serikat (AS) yang enggan disebutkan namanya dalam artikel yang dimuat Washington Post. Pada 2 Oktober 2018, Khashoggi mendatangi gedung konsulat untuk memperoleh dukumen syarat pernikahan.

Dia merencanakan pernikahan dengan tunangannya, Hatice Cengiz, di Turki. Artikel yang dimuat Washington Post memaparkan rekaman audio berisikan bukti persuasif dan mengerikan.

Sekelompok orang yang dikirim Arab Saudi ke Istanbul diyakini terlibat dalam kematian Khashoggi. Rekaman audio juga menggambarkan suasana di gedung konsulat setelah Khashoggi masuk.

Saat itu terdengar pembicaraan yang mendiskusikan persoalan intelijen yang sangat sensitif. "Suara yang terdengar, pembicaraan dalam bahasa Arab. Bisa didengar bagaimana dia (Khashoggi) diinterogasi, disiksa, dan kemudian dibunuh," ujar sumber tersebut.

Di tengah derasnya spekulasi, pemerintah Arab Saudi dengan tegas menyangkal keterlibatan dalam bentuk apa pun dalam kasus hilangnya Khashoggi. Sementara itu, tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz, berkukuh tidak melihat jurnalis ternama itu keluar dari gedung konsulat.

Di lain hal, pemerintah Turki terus mendesak pemerintah Arab Saudi agar menunjukkan bukti keluarnya Khashoggi dari gedung konsulat dalam keadaan hidup. Otoritas Turki saat ini fokus menyelidiki keterlibatan 15 orang pria asal Arab Saudi yang tiba di Istanbul pada 2 Oktober, yakni hari ketika Khashoggi menghilang.

Sekelompok orang yang diduga mendapat penugasan khusus ke Turki, kemungkinan besar berperan dalam kematian Khashoggi. Beberapa dari mereka disinyalir memiliki koneksi tinggi dalam lingkaran pemerintahan Arab Saudi.

Kecaman internasional

Seorang pejabat AS yang akrab dengan intelijen mengatakan kepada CNN bahwa pemerintah Saudi sempat berencana memancing Khashoggi untuk pulang ke Tanah Air dan kemudian menangkapnya. "Asumsi Washington sejauh ini ialah Khashoggi dibunuh di dalam gedung konsulat. Kami cukup jelas melihat kemungkinan itu (rencana pembunuhan), tetapi tidak berakhir dengan baik," kata pejabat tersebut seraya menegaskan asumsi yang diungkapkan belum menjadi kesimpulan final.

Sumber lain yang cukup mengenal sosok Khashoggi mengungkapkan pemerintah Arab Saudi pernah berencana menangkap Khashoggi pada 2017. Khashoggi juga sempat menolak usulan lembaga think tank yang didanai negara.

Sebaliknya, dia terus melontarkan kritikan tajam terhadap pemerintah, termasuk krisis diplomatik dengan Qatar. Kini kecaman internasional terhadap Arab Saudi kian meluas dan mendesak kejelasan atas kasus Khashoggi.

Hal itu ditunjukkan Inggris dan Prancis yang menyatakan keprihatinan mereka. Konglomerat Inggris, Richard Branson, bahkan memilih menghentikan dua proyek investasi di sektor pariwisata dan menunda pembicaraan investasi dengan Arab Saudi mengenai investasi senilai US$1 miliar.

Langkah serupa juga diikuti investor lainnya yang memilih angkat kaki dari Arab Saudi. Desakan juga datang dari Presiden AS Donald Trump. Dia meminta Arab Saudi mengklarifikasi keberadaan Khashoggi.

Sebagai informasi, kontributor Washington Post itu diketahui pernah menjadi mantan orang dalam Kerajaan Arab Saudi. Namun, dia kemudian gencar mengkritik kebijakan pemerintahan pascadipimpin Putra Mahkota, Muhammad bin Salman. (I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya