Kim Jong-Un Undang Paus Fransiskus ke Pyongyang

Tesa Oktiana Surbakti
09/10/2018 19:21
Kim Jong-Un Undang Paus Fransiskus ke Pyongyang
(AFP)

KOREA Utara disebut ingin mengundang Paus Fransiskus ke Pyongyang, sebagai bentuk dukungan upaya perdamaian di Semenanjung Korea. Hal itu diungkapkan Kantor Kepresidenan Korea Selatan, Selasa (9/10).

Sejauh ini, Korea Utara dan Vatikan tidak mempunyai hubungan diplomatik yang formal. Presiden Korea Selatan Moon Jae-in akan menyampaikan undangan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, saat bertemu langsung dengan Paus Fransiskus. Presiden Moon dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Eropa sepanjang 13-21 Oktober, di antaranya termasuk menghadiri Pertemuan Asia-Eropa di Belgia, kemudian berlanjut menyambangi Perancis, Italia dan Denmark.

"Presiden Moon akan mengunjungi Vatikan pada 17-18 Oktober mendatang. Sekaligus mengonfirmasi kembali dukungan Paus Fransiskus terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan Semenanjung Korea," jelas Juru Bicara Istana Kim Eui-kyeom.

Lebih lanjut, Kim mengatakan Presiden Moon juga berniat meyakinkan Paus Fransiskus bahwa kehadirannya di Pyongyang sangat dinanti Pemimpin Kim. Sebelumnya, Pemimpin Kim menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan Paus Fransiskus dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Korea Utara-Korea Selatan. Hanya saja dia tidak merinci kapan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Sementara itu, Paus Fransiskus diketahui akan mengunjungi Jepang tahun depan.

Konstitusi di Korea Utara memberikan kebebasan beragama, sepanjang tidak melemahkan kekuatan negara. Akan tetapi di luar tempat ibadah yang berada di bawah pengawasan negara, tidak diperkenankan melakukan kegiatan keagamaan secara terbuka.

Undangan Korea Utara kepada Paus Fransiskus pertama kali dimunculkan sekitar tahun 2000, saat masih dipimpin oleh Kim Jong Il. Namun, agenda pertemuan tak kunjung terwujud. Upaya menghadirkan Paus Fransiskus menjadi inisatif diplomatik Korea Utara kembali mengemuka tahun ini.

Korea Utara juga tengah dihadapkan rencana KTT putaran kedua dengan Amerika Serikat (AS). Mengingat, KTT kedua negara yang pertama kali dalam sejarah, belum menghasilkan komitmen yang memuaskan. Dari KTT yang berlangsung di Singapura, AS berkukuh mempertahankan sanksi serta tekanan terhadap Korea Utara, sampai denuklirisasi tahap akhir dapat sepenuhnya diverifikasi. Di lain sisi, Korea Utara sulit memenuhi syarat denuklirisasi sepanjang masih dikenai sanksi.(Reuters/OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya