Atasi Perubahan Iklim dengan Sekolah Apung

(AFP/Yan/I-1)
05/10/2018 09:00
Atasi Perubahan Iklim dengan Sekolah Apung
( (Photo by Munir UZ ZAMAN / AFP) )

Mosammat Rekha tumbuh dewasa tetapi tidak dapat membaca dan menulis. Jalan di desa kecil mereka kerap terputus dari sekolah terdekat oleh banjir tiba-tiba di Bangladesh yang rawan bencana itu.

Namun kini Mosammat belajar ABC di atas kapal yang dilengkapi ruang kelas dan peralatan bermain yang membantu anak-anak berkembang bahkan saat perubahan iklim mengubah dunia di sekitar mereka.

“Kami dapat menghadiri kelas bahkan selama musim hujan, ketika rumah kami hampir di atas air,” kata bocah tujuh tahun itu di atas kapal di Chalan Beel, sekitar 175 kilometer arah barat laut Dhaka.

Perubahan iklim telah menelan korban di seluruh Bangladesh. Negara berpenduduk padat dan miskin ini telah diidentifikasi oleh PBB sebagai salah satu yang paling rentan terhadap planet yang memanas ini.

Jutaan orang di negara dataran rendah dipaksa untuk beradaptasi dengan sungai yang meluap, naiknya permukaan laut, dan cuaca yang semakin ekstrim. Dua puluh juta orang di sana bisa menjadi pengungsi iklim pada akhir abad ini. Seperti telah diperingatkan sebuah panel PBB.

Di desa-desa seperti Kalidaskhali di tepian Sungai Padma, kekuatan-kekuatan akibat perubahan iklim ini sudah membentuk kehidupan baru dari jam ke jam.
“Daerah pinggiran sungai sejauh lima meter dari sungai bisa hilang dalam satu hari. Air ‘memakan semua yang ada di jalurnya,” kata pejabat pemerintah setempat Azizul Azam.

Model yang lebih kecil dilengkapi dengan meja, perpustakaan, dan papan tulis. Sementara desain yang lebih rumit dan bertingkat dua juga menyediakan seluncuran yang licin dan ayunan untuk bermain.

Banyak yang kesulitan beradaptasi ketika sungai berubah. Seorang warga desa menyebut perubahan ini liar dan marah.
Namun di tempat lain, kecerdikan lokal menemukan jalan keluar untuk menghadapi kekuatan alam yang bergejolak dan tidak dapat diprediksi.

Mahasiswa di BRAC University di Dhaka bulan lalu meluncurkan model untuk rumah bambu terapung. Rumah inibisa bertahan dari banjir atau mudah dipindahkan ke tempat lain jika terjadi banjir.

Di Chalan Beel, sekolah-sekolah terapung berguncang di sepanjang sungai dan danau yang banjir. Sekolah terapung menyediakan pendidikan kepada para siswa lama yang tidak dapat  belajar di salah satu lokasi termiskin di Bangladesh itu.

“Sekarang, mereka bisa mengenyam pendidikan sepanjang tahun,” kata Mohammad Rezwan, Kepala Amal Shidhulai Swanirvar Sangstha yang menjalankan proyek perintis itu.
Hari ini mereka menjalankan lebih dari 20 sekolah terapung di daerah Chalan Beel. Badan amal lainnya telah mereplikasi gagasan tersebut di berbagai belahan Bangladesh, di mana delta sungai terbesar di dunia bermuara di Teluk Benggala.

Bangladesh telah menginvestasikan lebih dari US$400 juta ke sebuah badan khusus baru untuk proyek-proyek adaptasi ini termasuk untuk tanggul banjir, teknologi pertanian terapung, dan stasiun pemurnian air bergerak.

“Ini menunjukkan betapa seriusnya kami mengerjakan ini,” kata Mukhlesur Rahman Sarker, Wakil Kepala Trust Perubahan Iklim Pemerintah. Inovasi lokal yang sederhana telah mengubah kehidupan dalam satu generasi di Chalan Beel. (AFP/Yan/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya