Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MASYARAKAT internasional semakin hilang kepercayaan terhadap pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. Yang terbaru, Kanada mencabut kewarganegaraan kehormatan yang diberikan padanya, Selasa (3/10).
Dengan pencabutan itu, peraih Nobel Perdamaian itu menjadi orang pertama yang dicabut gelarnya. Pencabutan merupakan reaksi atas penolakannya untuk mengutuk kekejaman militer negaranya terhadap minoritas muslim Rohingya. Langkah itu dibuat resmi setelah Senat Kanada sepakat mencabut kehormatannya secara simbolis. Majelis lebih rendah telah menyetujui mosi untuk efek yang sama minggu lalu.
Senator Ratna Omidvar mengatakan, meski militer punya pengaruh besar, Suu Kyi bukanlah tidak memiliki kekuatan sama sekali.
"Mencabut kewarganegaraan kehormatan untuknya tidak membuat perbedaan nyata baginya, tetapi itu mengirim pesan simbolis penting," katanya.
DPR Kanada memberikan hak istimewa itu kepada Suu Kyi pada 2007. Namun, reputasi internasionalnya ternoda oleh penolakannya untuk meminta tentara Myanmar untuk mengakhiri kekejaman mereka terhadap Rohingya.
Anggota parlemen Kanada menyebut kekerasan terhadap Rohingya sebagai genosida dalam resolusi yang disahkan pada September. Etnik itu diperlakukan sebagai orang asing di Myanmar, negara yang lebih dari 90% rakyatnya menganut Buddha.
Kampanye brutal oleh militer yang dimulai tahun lalu mendorong lebih dari 700.000 muslim Rohingya meninggalkan Myanmar ke negara tetangganya, Bangladesh. Di negara Asia Selatan itu, mereka tinggal di kamp-kamp pengungsi kumuh. Mereka takut kembali ke Myanmar meskipun telah ada kesepakatan repatriasi. Banyak yang melaporkan pembunuhan, kekerasan seksual, dan pembakaran.
Kanada memberikan warga kehormatan hanya kepada lima orang, termasuk diplomat Swedia, Raoul Wallenberg, pemimpin Afrika Selatan, Nelson Mandela, pemimpin Tibet Dalai Lama, dan anak perempuan Afghanistan, Malala Yousafzai.
Sebelum pencabutan kehormatan oleh pemerintah Kanada itu, Malaysia juga mencabut dukungannya dari Suu Kyi. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyebut perubahan sikap Suu Kyi menjadi alasan pencabutan dukungan itu. Mahathir mengatakan, ketika Suu Kyi berada dalam tahanan rumah, Malaysia berkampanye untuk membebaskannya. Namun, ketika Mahathir menulis kepadanya, Suu Kyi tidak membalas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved