Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MERAIH Penghargaan Nobel tentu sebuah prestasi. Namun, mereka yang menerima medali berbahan dasar emas itu harus siap kehilangan.
Berkaca dari kasus di sejumlah negara, medali Nobel menjadi sasaran empuk pencuri. Bahkan ada medali yang terpaksa dihancurkan agar tidak tertangkap pasukan Nazi. Ini menjadi catatan tersendiri pada sejarah
Penghargaan Nobel yang pertama kali diberikan pada 1901.
Para ilmuwan dari Institut Fisika Teoretis Niels Bohr mulai khawatir begitu pasukan Nazi menyerang wilayah Denmark pada 1940 sebab dua medali Nobel yang diraih ilmuwan asal Jerman, Max von Laue dan James Frank, disimpan di institut tersebut. Dalam kepemimpinan Adolf Hitler, Jerman melarang pengiriman segala bentuk emas ke luar negeri.
"Sedangkan nama Laue terukir di medali. Apabila dalam penyerbuannya, pasukan Nazi menemukan medali tersebut, tentu ini sangat membahayakan para ilmuwan," demikian pengakuan ilmuwan asal Hongaria, George de Hevesy, yang bekerja di Institut Fisika Teoretis Niels Bohr, seperti tertuang dalam catatan 1962.
De Hevesy mengungkapkan para ilmuwan sempat berpikir untuk mengubur dua medali emas dengan kadar 23 karat itu. Namun, niat itu diurungkan karena khawatir pasukan Nazi melakukan penggalian.
Alhasil, para ilmuwan memutuskan untuk menghancurkan kedua medali dengan cairan asam aqua regia. Setelahnya, cairan logam mulia disimpan di rak paling atas di laboratorium agar luput dari perhatian pasukan Nazi.
Setelah perang usai, de Hevesy yang berhasil meraih Penghargaan Nobel pada 1943 berupaya mengubah cairan emas itu menjadi endapan. Pada 1950, dia kemudian memberikan endapan tersebut kepada Yayasan Nobel agar merombaknya menjadi dua medali.
Kisah lain datang dari peraih Nobel, Aristide Briand, yang terpaksa menjual medali emasnya senilai US$14 ribu pada 2008. Terkadang, sengketa warisan atau persoalan ekonomi menjadi faktor penyebab penjualan medali yang biasanya berakhir di pasar lelang.
Namun, ada pula yang sengaja menjual medali untuk tujuan amal. Hasil penjualan medali pun beragam, nilainya tidak sama. Ilmuwan AS James Watson yang memenangi Penghargaan Nobel pada 1962 atas penemuan molekul struktur DNA berhasil memecahkan rekor penjualan medali, yakni US$4,1 juta.
Medali Nobel bisa diibaratkan tambang emas. Hal itu menarik perhatian kelompok pencuri. Museum Ecomusee of Saint Nazaire di Prancis, yang menyimpan medali Nobel raihan Aristide Briand, harus menelan pil pahit.
Pasalnya, kawanan pencuri membobol museum sekaligus membawa pergi medali emas tersebut pada 2015.
Kasus pencurian juga terjadi di India. Sekitar 2017 lalu, perampok mengambil medali Nobel yang dimenangi Kailash Satyarthi. Untungnya medali yang dicuri merupakan replika, sedangkan yang asli tersimpan rapat di museum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved