Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH pemimpin dunia berkumpul di New York, Amerika Serikat (AS), untuk menghidupkan semangat baru dalam Perjanjian Iklim Paris. Hal ini mengingat beberapa negara mundur dari komitmen yang tertuang dalam kesepakatan bersejarah.
Pada Desember 2017, Presiden Prancis Emmanuel Macron menggagas Konferensi Tingkat Tinggi One Planet Summit yang bertujuan mempercepat pelaksanaan pakta yang terbentuk 2015. "Kami di sini tidak hanya sekadar berbicara, tetapi juga ingin bertanggung jawab atas komitmen," ujar Macron dalam pertemuan dengan delegasi di Hotel Plaza, New York.
Setelah gencar mengingatkan kekalahan dalam pertempuran melawan perubahan iklim, Macron kini menyeru negara-negara di dunia untuk mengerahkan dukungan sebesar-besarnya dalam upaya penyelamatan iklim. Meski terdapat agenda konferensi perubahan iklim di Bonn pada Mei lalu, berikut di Bangkok dan San Fransisco pada September ini, dia memandang aksi penyelamatan iklim cenderung stagnan. Bahkan, sejumlah poin Perjanjian Iklim Paris yang sejatinya membawa perubahan, malah tak kunjung direalisasikan.
Presiden AS Donald Trump mengambil langkah mengejutkan dengan mundur dari kesepakatan itu. Keputusan yang muncul pada Juni 2017 dilatarbelakangi kekhawatiran AS akan mengalami kerugian ekonomi besar dari implementasi Perjanjian Iklim Paris. Sayangnya, langkah AS menjadi momentum bagi negara lain untuk menghentikan komitmen.
Australia, sebagai salah satu negara penghasil emisi gas rumah kaca per kapita terbesar di dunia, diketahui membatalkan RUU terkait pembatasan emisi karbon. Sementara itu, calon presiden Brasil dari kubu sayap kanan, Jair Bolsonaro, terang-terangan berjanji akan menarik Brasil dari Perjanjian Iklim Paris, apabila terpilih sebagai pemimpin. Salah satu poin kesepakatan global tersebut menetapkan negara-negara kaya memberikan dana bantuan iklim sebesar US$100 miliar per tahun. Dana tersebut ditujukan bagi negara-negara berkembang yang terdampak perubahan iklim. Sejauh ini dana yang berhasil dikumpulkan tercatat US$10 miliar. AS yang semula menjanjikan US$3 miliar, baru menyetorkan US$1 miliar di bawah kepemimpinan Obama.
Lebih menantang
Pertemuan puncak Conference of Parties (COP) 24 yang berlangsung di Polandia pada akhir tahun diprediksi lebih menantang. Pasalnya, pertemuan persiapan di beberapa negara berakhir dengan kebuntuan. "Belum ada sinyal kepastian apakah ada kesuksesan dari pertemuan tersebut," ujar Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB Patricia Espinosa.
Partisipasi pemimpin negara dalam konferensi yang diselenggarakan Bank Dunia dan PBB, jumlahnya relatif sedikit. Tercatat 30 presiden, perdana menteri dan menteri, yang akan hadir, di antaranya berasal dari Spanyol, Denmark, Norwegia, Tiongkok, dan negara-negara di kepulauan Pasifik. "Semestinya kita sadar, waktu bukanlah teman. Kita harus segera mengambil tindakan," tukas Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.
Mantan Wali Kota New York Michael Bloomberg menekankan sikap industrialis berperan penting. Walaupun seluruh pemimpin negara bahu-membahu membuat kebijakan, tetapi bukan itu yang menjadi faktor keberhasilan. "Bagaimana industrialis memiliki dorongan untuk menjalankan aspek ramah lingkungan, baik dari dalam tubuh korporasi," kata Bloomberg.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved