Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
COCA-Cola, Walmart, dan perusahaan multinasional besar lainnya, kemarin, berkomitmen untuk mengurangi polusi plastik di lautan untuk mendukung kampanye lima negara industri G-7.
Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, dan Italia, bersama dengan Uni Eropa, menandatangani Piagam Plastik Lautan pada pertemuan puncak para pemimpin di wilayah Charlevoix, Kanada, Juni.
Amerika Serikat dan Jepang abstain. Namun, negara-negara non-G7, yakni Norwegia dan Jamaika, turut mendukung rencana untuk memastikan 100% plastik dapat didaur ulang pada 2030.
Negara-negara itu bertujuan mengembangkan alternatif yang lebih layak untuk kemasan plastik. Mereka bekerja sama menuju tujuan agar pada 2040 semua plastik didaur ulang dan digunakan kembali.
Pada hari kedua Pertemuan Tingkat Menteri G-7 di Kota Pelabuhan Atlantik Halifax di Kanada, Menteri Lingkungan Kanada Catherine McKenna mengumumkan kemitraan baru dengan kaum bisnis untuk mengurangi limbah plastik.
Pendukung ialah Loblaws, Walmart, Nestle Canada, IKEA, Dow Chemicals, Coca-Cola Company, BASF Canada, dan A & W Canada.
Unilever juga mengumumkan meluncurkan lembaga nirlaba untuk mengurangi limbah konsumen dan sampah dari kegiatan bisnis. Sementara itu, Volvo menaikkan targetnya untuk membuat 25% dari plastik di mobilnya dapat didaur ulang pada 2025.
Kelompok G-7 dari negara-negara ekonomi utama dunia juga mencari cara untuk mengatasi sumber polusi laut yang terus meningkat. "Seperti kehilangan jaring ikan dan peralatan, yang menyumbang 70% dari sampah plastik yang mengambang di permukaan laut," kata Menteri Perikanan Kanada Jonathan Wilkinson.
Masalah besar
Menurut data kelompok Perlindungan Hewan Dunia, sekitar 640.000 ton jaring dan alat tangkap lainnya dibuang ke laut setiap tahun. Ini menewaskan sekitar 136.000 anjing laut, lumba-lumba, singa laut, kura-kura, paus kecil, dan burung laut lainnya.
"Ini benar-benar masalah besar," kata Wilkinson kepada AFP di Halifax. "Ada konsensus di antara negara-negara G-7 bahwa ini merupakan masalah yang sangat penting dan ada komitmen yang jelas untuk mengatasinya," katanya.
Menurut badan lingkungan PBB, 70% dari sampah plastik besar yang mengapung di laut berasal dari penangkapan ikan.
Josey Kitson, Direktur Eksekutif World Animal Protection, menyebut puing-puing plastik bak 'perangkap kematian' untuk banyak burung laut, ikan, dan mamalia laut.
Wilkinson menambahkan G-7 dan pemerintah lainnya yang diwakili pada pertemuan Halifax sedang menjajaki perbaikan seperti insentif bagi nelayan untuk menggunakan kembali peralatan dan membuang jaring tua. "Tujuannya ialah untuk benar-benar membersihkannya tidak membuangnya di tempat pertama."
G-7 juga mencari cara melacak gigi gear yang dibuang kapal untuk mengidentifikasi pencemar. Para menteri G-7 telah setuju untuk mendiskusikan masalah ini lagi pada Konferensi Ekonomi Biru di Nairobi, November mendatang. (AFP/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved