Unik, Bersiul untuk Memanggil sang Buah Hati

AFP/Tesa Oktiana Surbakti Tes/I-3
20/9/2018 07:00
Unik, Bersiul untuk Memanggil sang Buah Hati
(AFP/BIJU BORO)

BUNYI siul bersahutan merupakan hal yang lumrah di wilayah Kongthong, sebuah desa terpencil di Negara Bagian Meghalaya, India. Bukan bersumber dari kicauan burung, siulan-siulan itu berasal dari penduduk desa sebagai tradisi untuk memanggil seseorang.

Di daerah perbukitan yang dihiasi hamparan tanaman subur, para ibu memiliki siulan khas layaknya panggilan sayang kepada anak-anak mereka. Setiap orang Khasi, suku yang mendominasi wilayah tersebut, tentunya memiliki nama asli.

Namun, panggilan berbentuk siulan khusus lebih familiar di telinga mereka. Panggilan itu bahkan terus terngiang di sepanjang hidup mereka.

Bagi orang asing yang kali pertama menginjakkan kaki di Kongthong, pasti akan takjub. Kemungkinan juga merasa aneh kala berjalan di tengah simfoni siul yang bersahutan.

Suasana seperti itu memberi warna tersendiri bagi desa yang dipenuhi gubuk-gubuk kayu yang beratapkan seng. Seperti saat menjelang matahari tenggelam, para ibu berlomba memanggil anak-anak mereka dengan cara bersiul.

Namun, anak-anak yang masih ingin bermain tidak kehilangan akal. Sebagai kamuflase, mereka melontarkan siulan agar panggilan pulang dari sang ibu tersamarkan.

Kekacauan itu justru terdengar indah karena siulan yang satu seakan selaras dengan siulan lainnya. "Setiap siulan yang muncul memiliki komposisi melodi tersendiri. Melodi yang berasal dari lubuk hati. Karena itu menggambarkan cinta saya kepada anak-anak," kata Pyndaplin Shabong, ibu yang memiliki tiga anak.

Senada, Rothell Khongsit, pemimpin desa itu, mengungkapkan adanya makna khusus di balik setiap siulan. Akan tetapi, begitu sang anak melakukan kesalahan, siulan penuh kasih langsung sirna.

Para ibu maupun ayah akan memarahi sang anak dengan menggunakan nama asli. "Bernyanyi dengan siulan itu penuh unsur kasih. Ketika anak saya melakukan kesalahan hingga menghancurkan perasaan saya, sulit untuk mengeluarkan siulan. Lebih baik saya panggil namanya," tukas Khongsit.

Desa Kongthong sudah lama terisolasi dari dunia luar. Dengan jarak tempuh berjam-jam lamanya dari kota terdekat, butuh usaha ekstra untuk mencapai wilayah itu. Penerangan listrik bahkan baru ada pada 2000 lalu.

Begitu pula infrastruktur jalan tanah, baru dibangun sekitar 2013. Di desa itu, sehari-hari penduduk-penduduknya mencari sumber penghidupan di tengah hutan untuk mendapatkan rumput besar sebagai bahan dasar pembuatan sapu.

Saat di tengah hutan, mereka tetap menggunakan siulan untuk saling memanggil. Cara mereka bersiul di tengah hutan seolah menyerupai cuitan burung.

Kebiasaan meniru itu dikenal sebagai jingrwai awbei, yang artinya lagu dari klan pertama perempuan. Tapi, hal terpenting ialah durasi siulan yang lebih panjang, yakni sekitar selama 30 detik untuk memanggil satu nama.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya