Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTEMUAN dua pemimpin Korea menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Selain rencana kedatangan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un ke Seoul, Korea Selatan, pertemuan itu mengukuhkan komitmen denuniklirisasi Korut melalui penutupan situs uji coba rudal di bawah pengawasan ahli internasional.
Hanya saja, perkembangan isu utama mengenai penghancuran senjata nuklir masih terbatas. Dalam hal ini, Presiden Korsel Moon Jae-in berharap momentum segar tersebut dapat mendorong pembicaraan antara Korut dan Amerika Serikat (AS) yang sempat terhenti.
Kim mengatakan dirinya akan mengunjungi Seoul dalam waktu dekat. Menurut Kim, perjanjian yang baru saja disepakati dengan Moon, mengembuskan harapan baru bagi masyarakat yang menginginkan reunifikasi kedua Korea.
"Kesepakatan ini membawa harapan dan kekuatan baru bagi rakyat (kedua Korea), yang mendorong keinginan reunifikasi," kata Kim.
Kunjungan Kim ke Seoul bakal menjadi sejarah baru. Kim bakal menjadi pemimpin Korut pertama yang mengunjungi Seoul sejak berakhirnya Perang Korea 1950-1953 yang membelah Semenanjung Korea menjadi dua negara. Perang itu berakhir hanya dengan gencatan senjata, tanpa traktat perdamaian. Artinya secara teknis, kedua negara masih berperang.
Pertemuan di Pyongyang bisa terwujud berkat masifnya pendekatan kedua negara. Kedua pemimpin Korea pun menyetujui reuni keluarga yang digelar rutin, bekerja sama dalam pembangunan infrastruktur jalan dan jalur kereta api, serta sepakat bersama-sama mengajukan tawaran menjadi tuan rumah bersama Olimpiade 2032.
Sementara itu, Moon menuturkan pihaknya berharap Kim dapat menginjakkan kaki di Seoul tahun ini. Tentunya kedatangan Kim merupakan titik balik hubungan Utara-Selatan ke arah positif.
Apalagi, Korut menyetujui penutupan situs uji coba rudal secara permanen berikut menghentikan operasional fasilitas peluncuran rudal di Tongchang-ri, dengan catatan di bawah pengawasan ahli internasional.
"Korea Utara sudah setuju untuk menutup fasilitas uji coba rudal di bawah pengawasan ahli dari sejumlah negara terkait," tutur Moon dalam konferensi pers bersama kemarin.
Tutup fasilitas nuklir
Moon juga mengatakan Korut bersedia menutup fasilitas pengembangan nuklir di Yongbyon, sepanjang AS mengambil langkah yang sesuai.
Menilik KTT bersejarah Korut dan AS di Singapura Juni lalu, Korsel melalui Moon memiliki andil sebagai penengah.
Moon kembali menekankan pihaknya mendukung penuh denuklirisasi di Semenanjung Korea. Kendati demikian, KTT yang mempertemukan Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump tidak membuahkan perjanjian lebih detail, termasuk upaya untuk mencapai tujuan bersama.
Program rudal balistik Korut sudah mendapat larangan dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Larangan tersebut tidak lepas dari temuan beberapa aksi peluncuran roket jarak jauh dari situs uji coba yang juga dikenal bernama Sohae.
Peluncuran rudal diyakini menggunakan banyak lokasi, di antaranya Bandara Pyongyang. Gambar dari satelit per Agustus ini mengindikasikan sejumlah pekerja tengah membongkar sebuah mesin uji coba di Sohae.
"Kim bertindak sangat cemerlang. Seakan memverifikasi bahwa membongkar satu situs (uji coba) yang tidak lagi diperlukan, sedangkan di satu sisi masih memproduksi misil secara besar-besaran," kata Vipin Narang dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT). (AFP/Yan/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved