Berbenah Pascaserbuan Topan Mangkhut

(AFP/Denny Parsaulian Sinaga/I-2)
18/9/2018 04:45
Berbenah Pascaserbuan Topan Mangkhut
( NOEL CELIS / AF)

PARA komuter Hong Kong memanjat pohon-pohon tumbang dan tumpukan puing-puing pada Senin (17/9) dalam perjalanan mereka ke tempat bekerja. Ini terjadi di saat kota gila kerja ini berusaha untuk kembali normal setelah dilanda topan yang menghancurkan .

Beberapa warga menghadapi rintangan untuk tiba di tempat kerja. Mereka memanjat ranting-ranting yang patah, menumbangkan pepohonan dan bahkan membersihkan rel kereta.

Gambar sekelompok besar penumpang yang terjebak ke Stasiun Tai Wai Utara menjadi viral di media sosial dengan hashtag #thankscarrie.

"Ada pepohonan di seluruh tempat, tidak ada mobil, tidak ada bus," kata pengacara David Milligan, yang bekerja di pusat komersial Hong Kong, Central.

Badai itu memakan korban lusinan nyawa di Filipina. Tidak ada yang tewas di Hong Kong, tetapi lebih dari 300 orang terluka.

Para pekerja berkumpul untuk mengambil gambar gedung pencakar langit yang jendela-jendelanya terbang hilang.

Hong Kong kemarin bergema oleh suara gergaji dan bor ketika para pekerja berusaha membersihkan jalan dan jalan raya serta memperbaiki gedung-gedung yang rusak. Banyak jendela rumah dan kantor yang pecah. Atap-atap robek dan perlengkapan termasuk tanda-tanda dan lampu-lampu yang menggantung, lepas.

Di sekitar Tseung Kwan O, yang penuh dengan blok-blok menara dan diguncang topan, penduduk mengalami teror selama badai. "Saya bisa merasakan gedung kami berayun ketika angin bertiup," kata seorang pria berusia 62 tahun yang mengaku bernama Nyonya Fu.

Di desa pesisir dataran rendah, Lei Yue Mun, yang terkenal akan hidangan lautnya, penduduk muda dan tua dengan hati-hati mengumpulkan bebatuan, kaca, kerang, dan ranting-ranting.

Perabotan dan peralatan telah hancur di rumah beberapa orang, termasuk seorang penduduk yang memberi namanya sebagai Cheng. Cheng mengatakan dia telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menempati rumahnya kembali bersama setelah Topan Hato melanda tahun lalu.

Beberapa penduduk desa mengatakan, mereka tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah mereka, tetapi yang tersisa terpaksa mengambil risiko.

"Tempat kami baru direnovasi. Jika kami pergi, kami akan kehilangan segalanya," kata seorang warga bernama Tuan Ng.

Penduduk mengatakan pemecah gelombang besar telah dipasang di sepanjang garis pantai awal tahun ini untuk melindungi dari banjir dan beberapa pintu rumah diberi perisai banjir logam.

"Kekhawatiran badai memburuk karena perubahan iklim, memaksa desa-desa di pinggir laut seperti di Lei Yue Mun menanggung beban," kata profesor arsitektur di Chinese University of Hong Kong, Edward Ng.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya