Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK hanya Amerika Serikat (AS) yang bersiaga menghadapi badai Florence, Filipina pun tengah bersiap jelang kedatangan badai Mangkhut dalam kurun waktu 24 jam. Badai dengan kecepatan angin hingga 225 kilometer (km) per jam itu turut disertai hujan lebat.
Ribuan warga Filipina di wilayah pesisir utara terpantau sudah meninggalkan kediamannya. Di Pulau Luzon dengan populasi mencapai jutaan jiwa, baik pelaku usaha maupun warga sipil ramai-ramai menutupi jendela dan mengikat atap agar tidak terempas badai.
Badai Mangkhut diprediksi menghantam Filipina pada Sabtu waktu setempat. Badai Mangkhut disebut sebagai badai terdahsyat sepanjang tahun ini, serta berpotensi menimbulkan kerusakan besar.
"Hujan akan semakin deras, begitu juga pergerakan angin. (Badai) ini tidak main-main, kekuatannya sangat dahsyat. Bahkan bisa menghancurkan rumah, apalagi rumah semipermanen yang mayoritas memenuhi wilayah pesisir," ujar juru bicara Kantor Pertahanan Sipil, Michael Conag.
Pada Jumat ini, hujan deras disertai angin kencang mulai datang dari arah timur laut Pulau Luzon. Kendati demikian, belum terdapat laporan kerusakan besar ataupun banjir.
"Kami sungguh ketakutan. Kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang aman. Pada hujan monsun sebelumnya, sebagian rumah kami sudah hancur," tutur Delaila Pasion yang meninggalkan rumahnya di wilayah utara Filipina.
Pemerintah Filipina meng-antisipasi bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah berbukit. Di antaranya mencakup penyi-apan peralatan evakuasi dan suplai obat-obatan. Dalam setahun, rata-rata 20 badai dengan kekuatan beragam menghantam Filipina. Sebelumnya badai terdahsyat, yakni badai Super Haiyan, terjadi pada Novemer 2013. Lebih dari 7.350 orang tewas dan dinyatakan hilang di wilayah Filipina bagian tengah.
Badai terkuat
Badan Meteorologi Filipina mengklaim badai Mangkhut menjadi yang terkuat tahun ini. Mengingat kekuatan anginnya mencapai 205 km per jam. Masyarakat nelayan pun harus kehilangan mata pencaharian karena tak bisa melaut di tengah gelombang besar dan terjangan angin ganas. "Badai ini jelas membawa kehancuran. Masyarakat nelayan menjadi salah satu yang terdampak. Bahkan angin dengan kekuatan sedang saja bisa menghancurkan rumah," kata pejabat Kantor Pertahanan Sipil Daerah Dante Balao.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved