Haram Berhias bagi Perempuan Tanzania

(Tesa Oktiana Surbakti/I-1)
13/9/2018 06:30
Haram Berhias bagi Perempuan Tanzania
(THINKSTOCK)

BERHIAS ialah satu cara bagi perempuan untuk tampil cantik dan menarik. Namun, bagi anggota parlemen perempuan Tanzania, berhias diharamkan. Kalau tidak, mereka dilarang masuk gedung parlemen.

Larangan bagi anggota parlemen perempuan untuk berhias dikeluarkan Ketua Parlemen Nasional Tanzania, Job Ndugai, pada 10 September lalu. Dia juga melarang mereka menggunakan bulu mata maupun kuku palsu.

“Dengan kekuasaan yang diberikan, saya melarang semua anggota parlemen perempuan yang memakai bulu mata palsu dan kuku palsu, masuk ke gedung parlemen,” cetus Ndugai.

Alasannya sederhana, perempuan yang berhias berlebihan dinilai tidak sehat. Dia mengungkapkan telah berkonsultasi dengan para pakar kesehatan sebelum mengeluarkan larangan itu.

Ndugai mengeluarkan larangan itu tidak lama setelah Wakil Menteri Kesehatan, Pembangunan Masyarakat, Jender, Orangtua, dan Anak-Anak Tanzania, Faustine Ndugulile, menyatakan perempuan yang menggunakan bulu mata dan kuku palsu secara rutin berisiko mengalami komplikasi kesehatan yang biayanya harus ditanggung negara.  

Ndugulile mengatakan setiap tahun, Rumah Sakit Nasional Muhimbili (MNH) menerima sedikitnya 700 kasus perempuan yang kesehatannya terdampak penggunaan kuku dan bulu mata palsu, kuku palsu, dan pemutih kulit.

Rupanya bukan hanya kuku dan bulu mata palsu yang dilarang. Ndugai juga melarang anggota parlemen perempuan menggunakan baju ketat dan celana jins. Para pengunjung perempuan juga harus mengikuti aturan  berpakaian di parlemen ini.

Bersamaan dengan keluarnya aturan ketua parlemen itu, Presiden Tanzania John Magufuli menyerukan perempuan negeri itu untuk berhenti menggunakan alat kontrasepsi.

“Sebaiknya para perempuan berhenti menggunakan alat kontrasepsi,” kata Magufuli seperti dilansir laman allafrica.com. Dia menilai Tanzania masih membutuhkan lebih banyak warga.

Namun, menurut laporan  BBC, jumlah populasi Tanzania tercatat 53 juta jiwa, dengan 49% penduduk berpenghasilan kurang dari US$1,5 per hari. Secara rata-rata perempuan Tanzania memiliki lebih dari lima anak, yang termasuk tertinggi di dunia.

Magufuli juga menuding para perempuan Tanzania yang menggunakan alat kontrasepsi ialah pemalas.

“Mereka tidak mau bekerja keras untuk menghidupi keluarga besar. Itulah sebabnya mereka memilih mengontrol kehamilan, yang kemudian berakhir dengan satu atau dua orang anak,” kata Mangufuli.

Dia menekankan pengendalian populasi berdampak buruk untuk jangka panjang. Pernyataannya mengacu pada negara-negara Eropa yang kekurangan generasi muda.

Kebijakan Mangufuli menuai kritikan tajam dari anggota parlemen oposisi, termasuk Cecil Mwambe. Dia mengatakan seruan Magufuli itu bertolak belakang dengan kebijakan kesehatan yang hanya membolehkan empat anak per keluarga. (Tesa Oktiana Surbakti/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya