Jutaan Warga AS Bersiap Hadapi Badai Terdahsyat

Tesa Oktiana Surbakti
13/9/2018 05:15
Jutaan Warga AS Bersiap Hadapi Badai Terdahsyat
(ZACH GIBSON / AFP)

IRING-IRINGAN mobil memadati jalan raya yang mengarah keluar dari wilayah pantai Carolina Utara dan Carolina Selatan. Pascainstruksi evakuasi Badai Florence dikeluarkan, warga bergegas menyelamatkan diri demi menghindari badai terdahysat itu.

Sejak Selasa (11/9), Badai Florence yang masuk kategori 4, bergerak menuju negara bagian Timur Amerika Serikat (AS). Meski ma-yoritas warga di wilayah pesisir mengindahkan perintah evakuasi jelang kedatangan Badai ­Florence, tak sedikit yang memilih menetap.

Melihat hal itu, Gubernur Carolina Utara Roy Cooper terus mengingatkan warga untuk pergi dari wilayah tersebut, sekalipun berada di zona evakuasi. “Ini bukan badai biasa yang bisa dihadapi manusia. Ini badai bersejarah, mungkin sekali dalam seumur hidup,” tegas Cooper.

Perintah evakuasi ditujukan bagi 1,7 juta penduduk di Carolina Utara, Carolina Selatan dan ­Virginia. Otoritas setempat menyatakan perintah evakuasi sudah dikeluarkan sejak Badai Florence bergerak melintasi Samudera Atlantik menuju wilayah pesisir. Sementara itu, jalur lintas ke arah timur telah ditutup. Tujuannya untuk memperlancar arus lalu lintas ke wilayah daratan yang lebih tinggi.

“Kami harus mengatur lalu lintas yang terdampak rute evakuasi,” kata Jeff Byard, petugas Badan Penanggulangan Bencana Federal (FEMA). Secara terpisah, Pusat Badai Nasional (NHC) memprediksi Badai Florence akan menerjang wilayah California pada Kamis (13/9) malam atau Jumat (14/9) pagi.

Kekuatan badai itu diyakini berada di kategori 3. Namun, pada Rabu malam, kekuatan Badai Florence masuk kategori 4 dengan kecepatan 220 kilometer (km) per jam. Posisi badai saat itu terletak 1.165 km di timur-tenggara Cape Fear, Carolina Utara.

Desakan Trump
Presiden AS Donald Trump ikut mendesak agar warga mematuhi perintah evakuasi. “Jika Anda diminta pergi, segera lakukan. Ini akan menjadi badai terbesar dari yang pernah kita alami dalam beberapa dekade terakhir,” kata Trump dari Kantor Oval, Gedung Putih. Pejabat FEMA Brock Long yang ikut mendampingi Trump mengatakan kehadiran Badai Flo-rence berpotensi mengakibatkan kerusakan parah.

Pasalnya, badai datang sekaligus membawa gelombang besar yang mengancam keselamatan penduduk di wilayah pesisir. Aliran listrik diperkirakan padam selama beberapa pekan.

“Warga di wilayah pesisir harus mengungsi, apalagi banjir akan mencapai dataran yang lebih tinggi. Badai ini tidak akan menjadi pukulan sekilas, tapi pukulan langsung dan besar,” cetus Long.

Pengumuman situasi darurat setidaknya telah digaungkan di sejumlah wilayah, yakni Maryland, Carolina Utara, Carolina Selatan, Virginia dan Washington. Peringatan disertai dengan informasi tentang potensi hujan lebat dan banjir. Washington mengumumkan situasi darurat terakhir kali pada Januari 2016, saat Ibu Kota AS diselimuti salju setinggi lutut yang dinamakan musim Snowzilla.

Dari pantauan di wilayah Charleston, Carolina Selatan, ma-yoritas warga sudah bersiap me-ninggalkan kediaman mereka sejak Selasa. Jalanan tampak sunyi dan operasional kantor serta sekolah dihentikan untuk sementara.

Namun, meski bahaya besar mengintai, seorang warga bernama William Belli mengaku tidak ingin meninggalkan Charleston, apalagi bergabung dengan barisan pengungsi. Belli optimistis mampu bertahan dari badai itu mengacu pada Badai Hugo yang menghantam Carolina Selatan pada 1989.

“Saya tidak khawatir karena pernah melewati badai dahsyat. Saya sudah menyiapkan stok makanan dan air yang cukup.” (AFP/I-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya