Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KINERJA bursa saham Asia pada perdagangan Rabu (5/9) terpantau melemah, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ekonomi negara-negara emerging market. Pergerakan bursa saham Asia pun terbeban konflik perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan negara mitra, yakni Tiongkok dan Kanada.
Pascaperekonomian Turki dan Argentina mengalami gejolak, kini sentimen negatif muncul dari Afrika Selatan yang berada di ambang resesi setelah era 2009 lalu. Pelambatan pertumbuhan ekonomi periode kuartal II 2018 yang di luar ekspektasi mendorong pelemahan nilai tukar rand Afrika Selatan terhadap dolar AS.
Realisasi produk domestik bruto (PDB) Afrika Selatan pada kuartal II 2018 tercatat minus 0,7%. Sejumlah pengamat khawatir melemahnya ekonomi Afrika Selatan, yang menambah panjang daftar krisis negara emerging market, dapat meluas ke negara dengan perekonomian utama.
“Ekonomi Afrika Selatan kembali resesi. Ini sesuatu yang tidak diharapkan. Pertanyaan besarnya ialah apakah ini titik krusial untuk pasar emerging market. Jika isu idiosinkratik sekarang menambah beban yang merusak pasar emerging market secara struktural, prediksi saya, ya benar ,” ujar Greg McKenna, Chief Market Strategist AxiTrader.
Keberlanjutan krisis ekonomi pun tecermin dari nilai tukar sejumlah mata uang negara emerging market. Negara yang terdampak utamanya memiliki defisit traksaksi berjalan (CAD) cukup dalam.
Kurs rupee India terhadap dolar AS bahkan sudah menyentuh rekor terendah, begitu pula dengan nilai tukar rupiah Indonesia yang mencapai level terendah sejak krisis moneter 20 tahun lalu.
Investor angkat kaki
Pergerakan mata uang negara emerging market masih mendapat tekanan dari ekonomi ‘Negeri Paman Sam’ yang terus melaju. Penguatan ekonomi AS kemudian mendorong The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR).
Kondisi itu memicu investor angkat kaki dari pasar negara berkembang, lantaran tergiur tingkat return yang lebih baik di AS. Perbaikan indeks aktivitas manufaktur di AS, melampaui ekspektasi dalam 14 tahun terakhir, juga memperkuat ekonomi negeri yang dipimpin Donald Trump.
Kekhawatiran atas nasib ekonomi negara-negara emerging market turut mengguncang ekuitas. Investor kian waswas jelang kebijakan AS menaikkan bea masuk komoditas impor Tiongkok senilai US$200 miliar. Tensi ketegangan perang dagang dua negara raksasa belum menurun. Itu tecermin dari sikap Tiongkok yang meluncurkan tarif balasan atas komoditas impor asal AS.
Indeks bursa saham Tokyo merosot 0,5% dan turut terdampak topan dahsyat yang baru saja menghantam Jepang. Kinerja emiten sebagai pendorong bursa Jepang pun terpantau melemah. Saham Tokyo Electron, produsen cip, anjlok hingga 1,6%, kemudian saham perusahaan kosmetik raksasa Fancl, merosot sampai 10% imbas turunnya pembelian kosmetik pasca-Jepang diterjang badai.
Sementara itu, indeks bursa saham Hong Kong turun 2,3 dan bursa saham Shanghai melemah 1,7%. Adapun indeks bursa saham Singapura dan Seoul pada perdagangan Rabu, masing-masing merosot 1,2% dan 1%. Senada, indeks saham Manila harus kehilangan poin lebih dari 2%, disusul indeks saham Bangkok yang turun 0,8%.
“Sepertinya tidak ada tanda-tanda untuk menahan laju pelemahan bursa saham di pasar negara berkembang. Investor saat ini lebih selektif. Apalagi, perekonomian negara-negara berkembang diberitakan mengalami krisis,” jelas Chief Excecutive Officer FPG Securities Koji Fukaya. (AFP/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved