Kisah Feminis Arab Berjuang lewat Radio

(BBC/Denny Parsaulian Sinaga/I-2)
24/8/2018 08:00
Kisah Feminis Arab Berjuang lewat Radio
(AFP/MATTHIEU CLAVE)

BEROPERASI dari sebuah ruangan kecil, sebuah stasiun radio internet baru menyiarkan program untuk mengampanyekan hak-hak perempuan yang lebih besar di Arab Saudi.

Dengan alunan musik melankolis, presenter Nsawya FM ('Feminisme FM') membahas masalah kekerasan dalam rumah tangga di Kerajaan Teluk.

Dia membahas nasib Sara, seorang perempuan pekerja yang katanya dibunuh seorang kerabat laki-laki. Sara, 33, ingin menikahi seorang pria dengan kewarganegaraan yang berbeda, yaitu Yaman.

"Mimpi Sara berakhir dengan lima peluru setelah dia ditembak saudara laki-lakinya yang berusia 22 tahun. Meskipun dia telah secara resmi terikat setelah mendapat persetujuan orangtuanya," kata Ashtar, 27, yang menggunakan nama samaran terinspirasi oleh dewi cinta dan perang Mesopotamia, kepada BBC Arab melalui telepon.

Presenter itu juga menceritakan kisah Hanan Shahri, yang dilaporkan bunuh diri pada 2013 setelah saudara lelakinya dan pamannya diduga memukulinya dan menolak untuk mengizinkannya menikahi tunangannya.

Puncak gunung es
Kasus-kasus seperti itu, kata Ashtar, hanyalah 'puncak gunung es'. Tiga minggu yang lalu, Nsawya FM membuat akun Twitter dan mengumumkan akan menyiarkan program mingguan yang disebut Suara Diam Mayoritas.

Dalam dua minggu terakhir, stasiun telah menyiarkan dua program satu jam hanya menggunakan mikrofon, laptop dengan perangkat lunak pengeditan dan situs web streaming audio langsung, Mixlr.

"Kami memulai proyek ini untuk mengarsipkan fase ini sebagai sejarah, sehingga orang-orang akan tahu kami nyata, kami memang ada," jelas Ashtar, yang tidak ingin berbagi detail tentang identitasnya sendiri meskipun tinggal di luar kerajaan karena dia takut akan ada pembalasan.

Setidaknya 17 pembela hak asasi manusia dan aktivis hak-hak perempuan yang kritis terhadap pemerintah Saudi telah ditangkap atau ditahan sejak pertengahan Mei.

Ashtar menggambarkan dirinya sebagai seorang aktivis yang menggunakan media untuk mengekspresikan ide-idenya.

Sekarang setelah larangan mengemudi perempuan telah dicabut Raja Salman, aktivis seperti Ashtar sedang berkampanye untuk mengakhiri sistem perwalian laki-laki, yang mereka katakan diskriminatif.

Di bawah sistem ini, pria diberi wewenang untuk membuat berbagai keputusan penting atas nama kerabat perempuan mereka.

Para aktivis telah berkampanye di twitter, platform media sosial paling populer di Arab Saudi. "Seandainya dia mau, Raja bisa saja menghapus sistem perwalian. Ini tidak membutuhkan diskusi dan konsultasi selama puluhan tahun. Yang dibutuhkan hanyalah satu tanda tangan."





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya